Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Maruf: Keterlaluan Kalau Ekonomi Syariah tak Maju

Jumat 15 Nov 2019 17:04 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Esthi Maharani

Ekonomi syariah terkait makanan dan minuman halal.

Ekonomi syariah terkait makanan dan minuman halal.

Foto: KNKS
Hampir di segala sektor keuangan dan ekonomi kini mulai menerapkankan prinsip syariah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin menilai upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia sangat gencar. Menurut Ma'ruf, hampir di segala sektor keuangan dan ekonomi kini mulai menerapkankan prinsip syariah. Bahkan, Ma'ruf mengungkap pimpinan lembaga dan kementerian ekonomi ikut terlibat dalam konsep pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Mereka kata Ma'ruf, antara lain Menteri Keuangan Sri Mulyani yang juga sebagai Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) periode 2019-2023, Ketua OJK Wimboh Santoso yang juga Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah yang juga pegiat ekonomi syariah

"Bahkan Presiden pun sudah menjadi Ketua KNKS. Jadi kalau (ekonomi dan keuangan syariah) tidak maju ini memang keterlaluan," ujar Ma'ruf saat menghadiri Silaturahmi Kerja Nasional Masyarakat Ekonomi Syariah di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (15/11).

Karena itu, Ma'ruf kembali mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah lebih cepat. Ma'ruf menerangkan, jangan lagi menggunakan pedoman 'alon-alon asal klakon'.

Sebab, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia sudah tertinggal. Tak hanya cepat, ia juga ingin pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tepat dan manfaat.

 "Karena harus ada akselerasi, kita harus cepat karena kita sudah banyak ketinggalan, tapi harus tepat bekerjanya, dan kita harus bekerja memberikan manfaat dampak yang besar," ujar Ma'ruf.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA