Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

BNI Siapkan Strategi Tingkatkan Inklusi Keuangan

Kamis 14 Nov 2019 20:37 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Dwi Murdaningsih

Nasabah membeli Sukuk Tabungan (ST) Seri ST006 melalui aplikasi BNI Mobile Banking di Jakarta, Senin (4/11/2019).

Nasabah membeli Sukuk Tabungan (ST) Seri ST006 melalui aplikasi BNI Mobile Banking di Jakarta, Senin (4/11/2019).

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Bank BNI mempermudah pembukaan rekening bank.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk terus berupaya meningkatkan inklusi keuangan. Perseroan pun menyiapkan sejumlah strategi demi mencapainya.

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta menyebutkan, strategi pertama yakni memperbanyak dan memperluas agen Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) yang dinamai agen46. "Itu perpanjangan tangan BNI dalam menjalankan fungsi perbankan di daerah termasuk yang tidak terjangkau atau daerah 3T terdepan, terluar, tertinggal," ucap dia, kepada Republika.co.id, Kamis, (14/11).

Strategi kedua, ujarnya, mempermudah pembukaan rekening bank. Calon nasabah tidak harus datang ke kantor cabang bank, melainkan dapat melalui agen atau formless.

Ketiga, Herry menuturkan, BNI terus mendukung program pemerintah khususnya terkait inklusi keuangan yang dijalankan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. "Termasuk dalam mendukung program penyaluran bantuan sosial dan subsidi lainnya secara nontunai seperti elpiji, listrik, dana desa, dan lainnya," ucap dia.

Menurutnya, kontribusi serta keterlibatan dalam program pemerintah dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi menjadi lebih cepat sekaligus berkelanjutan. Pada akhirnya, lanjut Herry, hal itu akan meningkatkan bisnis BNI maupun perbankan secara keseluruhan.

Sebelumnya, Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) melakukan survei Financial Inclusion Insights. Hasilnya menunjukkan, sebanyak 55,7 persen orang dewasa memiliki akun lembaga keuangan formal.

Angka itu naik lebih dari 20 poin dibandingkan 2016. Peningkatan itu dinilai berkat program bantuan sosial nontunai seperti Bantuan Pangan Nontunai (BNPT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang disalurkan melalui akun bank.

Hanya saja Ekonom Ryan Kiryanto menyatakan, yang mendorong kenaikan level inklusi keuangan bukan program bantuan nontunainya, melainkan jaringan operasional bank. Baik yang dilakukan lewat kantor cabang fisik, cabang nonfisik, maupun agen Laku Pandai yang jumlahnya ratusan ribu.

"Kesemuanya itu menjadi kanal penyaluran bansos. Jadi saya ulang, bukan program bansosnya yg membuat literasi keuangan dan inklusi keuangan meningkat, tetapi kehadiran dan kontribusi bank-bank penyalur program bantuan nontunai itulah yang menyebabkan literasi keuangan masyarakat meningkat," tutur dia saat dihubungi Republika.co.id.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA