Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Pasar Otomotif Indonesia Ibarat 'Mati Satu Tumbuh Seribu'

Sabtu 16 Nov 2019 01:21 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/Rizky Suryarandika/ Red: Nora Azizah

Chevrolet Colorado Centennial Edition 2018

Chevrolet Colorado Centennial Edition 2018

Foto: Youtube
Ada merek mobil yang pergi, tapi ada juga yang jadi pengganti.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan mundur dari kompetisi pasar otomotif di Indonesia yang dilakukan Ford dan Chevrolet memang mengagetkan. Namun apa daya, persaingan sengit di antara pelaku industri mobil memang tak bisa dihindari.

Meski demikian, hal ini masih disebut wajar bagi Asosiasi Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Pasar otomotif Indonesia ibarat Mati Satu Tumbuh Seribu. Ada yang pergi, namun pasti ada penggantinya.

Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, bahkan menyebutkan bahwa pasar otomotif Indonesia masih memiliki potensi besar. Meskipun Gaikindo menurunkan prediksi penjualan di tahun ini menjadi 1 juta unit dari angka 1,1 juta unit.

"Meskipun ada yang keluar, ada juga investasi yang masuk, seperti Wuling dan Hyundai. Ini karena pasar otomotif Indonesia masih sangat potensial," kata Jongkie kepada Republika, belum lama ini.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 260 juta, penjualan mobil di Indonesia baru sebanyak 87 unit per 1000 orang. Jika dibandingkan dengan negara tetangga, penjualan mobil di Indonesia masih sangat kecil. Di Malaysia penjualan mobil sebesar 439 unit per 1000 orang, sedangkan Thailand 228 unit per 1000 orang.

Apabila rasio di Indonesia naik menjadi 88 unit per 1000 orang, kata Jongkie, berarti penjualan naik 260 ribu unit. Saat ini, masalah utamanya adalah pertumbuhan ekonomi yang masih stagnan di 5,00 persen, juga pendapatan per kapita yang kurang dari 4000 dolar AS atau sekitar Rp 56 juta per tahun.

"Potensi kita luar biasa, apalagi kalau pembangunan infrastruktur diperluas, pertumbuhan ekonomi meningkat, pariwisata berkembang, ini juga akan berpengaruh ke industri otomotif," jelasnya.

 

photo
Pabrik mobil di Brazil yang menghasilkan mobil baru merek Ford, Chevrolet dan Fiat.

Sementara untuk peningkatan penjualan mobil saat ini, Jongkie menilai suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini sudah cukup untuk mematok suku bunga kredit kendaraan beemotor. Apalagi sekitar 70 persen penjualan otomotif di Indonesia adalah melalui kredit atau leasing.

"Sekarang hanya harus dijaga adalah suku bunganya. Jangan sampai loncat gak karuan. LTV gak perlu dipatok, perusahaan pembiayaan ngerti bagaimana mengatur angsuran kreditnya," ujar Jongkie.

Berbeda dari rasa optimistis kubu Gaikindo, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bidang Industri Manufaktur, Johnny Darmawan, justru menyebut hengkangnya Ford dan Chevrolet karena kalah bersaing dengan merek mobil lain. Saat ini, merek mobil Jepang menguasai pasar otomotif dalam negeri karena berani melakukan investasi besar.

"Saya memperkirakan penyebab keluar Chevrolet karena pertama, dari segi bisnis tidak efisien, operating cost-nya tinggi. Kedua, ada persaingan usaha, merek Jepang memang dominan karena investasinya konsisten, pendalaman industrinya oke," ujar Johnny.

Johnny juga menilai, industri otomotif dinilai sedang dalam kondisi stagnan akibat dari kurangnya daya beli masyarakat. Akibatnya, ekspor mobil justru meningkat, dengan Gaikindo memperkirakan ekspor mencapai 300 ribu unit sepanjang tahun ini. Pertumbuhan ekonomi yang lebih baik tentunya akan mendorong pertumbuhan industri otomotif.

Namun menurut Pengamat Otomotif, Bebin Djuana, Ford dan Chevrolet yang memilih pergi dari Indonesia hendaknya haruslah berhati-hati. Menurutnya, penjualan mobil dari dua merek tersebut tidak memiliki kendala signifikan di luar negeri.

Ford tetap memiliki pasar di Eropa dan Inggris. Sementara Chevrolet masih laris di Amerika Serikat (AS).

"Jangan karena penjualan turun malah minggat, ini bisa ngaruh ke pengguna Chevy yang sudah ada. Secara umum, konsumen akan melihat buruk ketika si merek meninggalkan konsumen begitu saja, suatu saat mau kembali akan susah. Ini masalah kepercayaan pada sebuah brand," kata Bebin.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA