Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Jokowi Akui Cemburu Soal Pelukan Erat Paloh-Sohibul

Senin 11 Nov 2019 21:24 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman berpelukan dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh usai melakukan pertemuan di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10).

Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman berpelukan dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh usai melakukan pertemuan di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10).

Foto: Republika/Prayogi
Jokowi mengaku tak pernah dirangkul Paloh seerat dengan Sohibul.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung sindiran yang ia sampaikan terkait 'pelukan erat' antara Ketua Umum (Ketum) Partai Nasdem dan Presiden PKS Sohibul Iman. Dalam pidatonya di peringatan HUT ke-8 Nasdem di Jakarta, Jokowi mengaku cemburu terhadap pelukan dua tokoh parpol itu.

"Urusan rangkulan, Bang Surya dan Pak Sohibul Iman itu hanya masalah kecemburuan. Masalah kecemburuan karena memang saya tidak pernah dirangkul seerat itu," ujar Jokowi, di JiExpo Kemayoran, Senin (11/11) malam.

Jokowi memang menyampaikan sindiran soal pelukan Paloh-Sohibul dalam pidatonya di peringatan HUT ke-55 Golkar pekan lalu. Jokowi menilai, pelukan antara Paloh dan Sohibul memiliki arti dan makna yang tak diketahuinya. Pernyataan Jokowi ini pun membangun spekulasi bahwa koalisi tak lagi harmonis.

Namun kini Jokowi mengklarifikasi hal itu. Jokowi menegaskan bahwa koalisi yang mengusungnya masih rukun. Bahkan hal ini dibuktikan dengan pelukan erat antara dirinya dengan Paloh usai menyampaikan pidato.

"Sehabis saya menyampaikan sambutan saya akan peluk erat Bang Surya lebih erat dari beliau memeluk Pak Sohibul iman. Rangkulan itu apa yang salah? Kalau niatnya itu untuk komitmen kenegaraan apa yang salah?" katanya.

Menurut Jokowi, candaan seorang sahabat yang dekat merupakan hal yang lumrah. Misalnya, dirinya menyampaikan candaan soal pelukan Paloh-Sohibul, juga merupakan hal biasa.

"Ada yang curiga. Ada yang sinisme. Ada yang nggak percaya. Apanya yang salah? Salah besar kalau ada yang menyampaikan koalisi ini sudah tidak rukun," kata Paloh.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA