Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Evo Morales Kecam Pengakuan AS Atas Pemerintahan Bolivia

Kamis 14 Nov 2019 11:01 WIB

Red: Ani Nursalikah

Mantan presiden Bolivia Evo Morales datang untuk bertemu Wali Kota Mexico City Claudia Sheinbaum di Mexico City, Meksiko, Rabu (13/11).

Mantan presiden Bolivia Evo Morales datang untuk bertemu Wali Kota Mexico City Claudia Sheinbaum di Mexico City, Meksiko, Rabu (13/11).

Foto: AP Photo/Marco Ugarte
Evo Morales menyebut pengunduran dirinya dipicu kudeta.

REPUBLIKA.CO.ID, MEXICO CITY -- Mantan presiden Bolivia Evo Morales mengatakan dia mengecam pengakuan Amerika Serikat (AS) atas pemerintahan de facto baru Bolivia, Rabu (13/11).

Wakil presiden kedua Senat Bolivia mendeklarasikan diri menjadi presiden sementara setelah Morales angkat kaki ke Meksiko untuk mencari suaka, Selasa lalu. Veteran sosialis itu mengatakan pengunduran dirinya dipicu kudeta.

Miorales menyebutnya dalam cicitan di Twitter sebagai konspirasi ekonomi dan pollitik yang bersumber dari AS. Penjabat Asisten Sekretaris untuk Biro Urusan Belahan Barat Departemen Luar Negeri AS Michael Kozak menuliskan via Twitter bahwa AS berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah sementara Bolivia.

Bentrokan baru mengguncang ibu kota Bolivia, La Paz, Rabu (13/11). Pendukung mantan presiden Evo Morales tidak tinggal diam setelah anggota parlemen Jeanine Anez menyatakan diri sebagai presiden sementara.

Sehari setelah Anez mengklaim sebagai presiden, bentrokan sengit terjadi antara pendukung Morales dan polisi. Pengunjuk rasa melempar batu dengan menggunakan senjata antihuru-hara.Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Jet tempur pun terbang rendah di atas kepala demonstran sebagai upaya unjuk kekuatan.

Di jalan-jalan, para demonstran yang marah merobek lembaran-lembaran logam dan papan kayu bergelombang dari lokasi konstruksi untuk digunakan sebagai senjata. Banyak yang membanjiri jalan-jalan di ibu kota dan sekitarnya, seperti El Alto. Mereka mengibarkan bendera pribumi beraneka warna dan meneriakkan, "Sekarang, perang saudara!"

"Kami tidak ingin ada diktator. Wanita ini telah menginjak kami, itu sebabnya kami sangat marah," kata pendemo Paulina Luchampe.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA