Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

CIMB Niaga: Pasar Properti Cenderung Stagnan

Rabu 13 Nov 2019 16:44 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Rumah KPR

Rumah KPR

Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Penyaluran kredit properti per September 2019 hanya tumbuh 10,8 persen secara tahunan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyaluran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) hingga kuartal tiga 2019 masih lesu dan pertumbuhannya cenderung melambat. Data Bank Indonesia menunjukkan penyaluran KPR per September 2019 hanya tumbuh 10,8 persen secara tahunan menjadi Rp 499,3 triliun.

Pertumbuhan tersebut melambat jika dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 11,3 persen secara tahunan dan periode sama tahun lalu tumbuh 14,5 persen secara tahunan. Mortgage & Indirect Auto Business CIMB Niaga Head Heintje Mogi mengakui saat ini terjadi perlambatan pasar properti di Indonesia.

“Pasar properti flat kurang lebih penjualan hanya 3,5 persen secara nasional,” ujarnya saat konferensi pers di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Rabu (13/11).

Per 30 September 2019, CIMB Niaga penyaluran KPR tumbuh 12,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya menjadi Rp 32,82 triliun. Ke depan, perusahaan menerapkan strategi cross selling dengan menawarkan KPR kepada nasabah existing seperti nasabah tabungan, kartu kredit, bancassurance dan lainnya.

“Tahun depan kami menargetkan portofolio segmen konvesional dan syariah sebesar 13-15 persen,” ucapnya.

Sementara Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menambahkan pada tahun depan sektor properti akan lebih baik dilihat dari tren peningkatan penjualan yang mulai terjadi pada kuartal tiga 2019. Tren penjualan properti kuartal tiga masih tumbuh 13,95 persen didorong penjualan rumah tipe sedang dan besar.

“Dorongan pemerintah dengan kebijakan pelonggaran LTV dan penurunan suku bunga acuan juga membuat iklim properti makin prospektif,” ucapnya.

Josua menilai permintaan properti pada tahun depan masih tetap tinggi dilihat dari prediksi backlog yang masih besar. Diperkirakan tahun depan backlog properti atau short supply perumahan diperkirakan mencapai 15 juta unit.

“Ini yang menjadi perhatian pemerintah untuk mendorong sektor properti,” jelasnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA