Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Industri Pakan Khawatir Pasokan Jagung Langka Tahun Depan

Rabu 13 Nov 2019 16:23 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Petani menjemur jagung untuk pakan ternak. ilustrasi

Petani menjemur jagung untuk pakan ternak. ilustrasi

Foto: ANTARA FOTO
Musim panen jagung mundur dan panen raya diperkirakan baru tiba awal Maret 2020

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri pakan unggas mengaku khawatir soal ketersediaan jagung dalam negeri untuk kebutuhan pada Januari-Februari 2020 mendatang. Kekhawatiran itu terjadi lantaran surplus jagung pada akhir Desember 2019 diperkirakan hanya 701,5 ribu ton sedangkan rerata kebutuhan untuk dua bulan itu sekitar 1,2 juta ton.

Sementara, musim panen jagung mengalami kemunduran sehingga panen raya diperkirakan baru tiba pada awal Maret tahun depan. Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) berharap pemerintah diminta segera mengambil kebijakan strategis untuk mengantisipasi kelangkaan jagung.

Baca Juga

Sebab, naiknya harga jagung dalam negeri bakal berdampak langsung pada kenaikan harga pakan unggas.

"Kita sudah sampaikan kondisinya. Badan Ketahanan Pangan Kementan juga sudah menampilkan ada data defisit. Cuma, belum ada solusi apapun. Padahal, setiap tahun kita mengalami hal itu (defisit) dan bisa dilihat dari harga (naik)," kata Ketua GPMT, Johan di Menara 165, Jakarta Selatan, Rabu (13/11).

Mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018, harga acuan jagung dengan kadar air 15 persen untuk industri pakan ternak sebesar Rp 4.000 per kilogram. Namun, kata Johan, harga yang diterima saat ini bisa mencapai Rp 4.450 per kg.

Di saat bersamaan, impor jagung untuk industri pakan ternak telah disetop sejak tahun 2017. Pemerintah juga telah menyetop impor gandum sebagai substitusi jagung sejak 2018 lalu.

"Jadi, ketersediaan stok untuk Januar-Februari sampai awal Maret nanti masih jadi tanda tanya. Itu yang kami khawatirkan karena tren sebelumnya akhir tahun sampai panen raya itu paling bergejolak," kata Johan.

Ia menegaskan, untuk bisa menurunkan biaya produksi daging ayam menjadi Rp 16 ribu per kg dari saat ini Rp 18 ribu per kg maka biaya pakan tidak boleh bergejolak. Harga Rp 4.000 sesuai aturan Kementerian Perdagangan sudah cukup mewadahi kepentingan industri pakan.

Adapun, penurunan biaya produksi daging ayam harus segera diturunkan demi menghadapi tantangan akan masuknya daging ayam impor asal Brasil. Industri perunggasan dalam negeri harus bisa meningkatkan efisiensi demi bisa bersaing dengan produk impor.

Di satu sisi, petani bisa mendapatkan ruang yang lebih untuk bisa bersaing dan mendapatkan keuntungan yang besar. "Tapi, syaratnya harga jagung harus demikian. Tidak fluktuatif seperti sekarang," kata dia.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, hingga akhir tahun 2019 diproyeksikan pasokan jagung akan mengalami surplus sebesar 701,5 ribu ton. Surplus tersebut tercatat meleset jauh dari proyeksi awal Kementan yang menyatakan surplus jagung 2019 mencapai 7,13 juta ton.

Meski demikian, pemerintah meyakini surplus jagung masih aman untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, khususnya pakan unggas.

Proyeksi surplus awal sebesar 7,13 juta ton diperoleh dari prognosis ketersediaan jagung kadar air 15 persen sebesar 25,23 juta ton sementara kebutuhan jagung pakan industri 18,1 juta ton. Namun, hasil progonosis Kementan bulan November 2019 menyebutkan bahwa surplus jagung pada Desember mendatang akan jauh lebih kecil.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA