Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Thursday, 16 Sya'ban 1441 / 09 April 2020

Polusi Udara India Perbesar Risiko Keguguran Wanita Hamil

Rabu 13 Nov 2019 12:08 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Warga India dan turis mengenakan masker untuk menghalau polusi udara saat berjalan di New Delhi, India, Senin (4/11).

Warga India dan turis mengenakan masker untuk menghalau polusi udara saat berjalan di New Delhi, India, Senin (4/11).

Foto: AP
Polusi udara India dinilai bisa masuk ke plasenta wanita hamil.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Perempuan hamil di New Delhi, India kini cemas dengan polusi udara karena memperbesar risiko keguguran.

Baca Juga

Salah satunya, warga New Delhi, Arti Bhatia yang mengalami keguguran.

"Ketika saya, sayangnya, kehilangan kehamilan saya pertama kali, saya hanya mengatakan mungkin itu nasib buruk," katanya dalam wawancara dengan Aljazirah, Rabu (13/11).

"Tetapi kemudian, seperti, apakah (keguguran) karena udara yang kita hirup dan makanan yang kita makan?," kata dia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, India merupakan rumah bagi 14 dari 15 kota paling tercemar di dunia. Medis tidak memiliki banyak pilihan selain merekomendasikan penggunaan masker, dan pembersih udara mahal yang tidak terjangkau oleh banyak orang di India.

Seorang Ginekolog Rinku Sengpta mengatakan, pihaknya mengkhawatirkan polutan yang dapat mempengaruhi ibu dan janinnya. "Kami sangat khawatir karena kami tahu bahwa polutan yang berbeda tidak dapat mempengaruhi paru-paru ibu karena udara yang ia hirup, tetapi polutan ini bahkan dapat mencapai plasenta," kata dia.

Pusat Sains dan Lingkungan mencatat polusi udara membunuh lebih dari 100.000 anak di bawah 5 tahun di India setiap tahunnya. Seorang Neonatologis, Sankalp Dudeja mengatakan, polusi udara dapat menyebabkan keburukan bukan hanya masalah jangka pendek.

"Mereka bahkan memiliki masalah jangka panjang seperti risiko IQ rendah di masa depan, risiko berbagai masalah perkembangan di masa depan, risiko diabetes, hipertensi, dan obesitas di masa depan," katanya.

Sebelumnya, dilaporkan indeks kualitas udara yang di New Delhi, yang tercatat dari kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk India berada pada tingkat berbahaya, yaitu mencapai angka 497. Sementara, tingkat PM 2.5 atau partikel dari polusi yang dapat masuk ke paru-paru mencapai 700 di sejumlah area di Ibu Kota negara Asia Selatan itu.

Angka itu melebihi 10 kali lipat dari batas aman, di mana standar indeks kualitas udara adalah 60. Menurut seorang manajer di Pusat Sains dan Lingkungan, Vivek Chattopadhyay, beberapa faktor yang membuat kualitas udara kembali memburuk adalah penurunan kecepatan dan suhu angin, sehingga polutan terjebak.

Dalam mengatasi kualitas udara yang memburuk di New Delhi, pemerintah kota setempat telah membatasi penggunaan mobil pribadi hingga 15 November, dengan sistem ganjil-genap, seperti yang diterapkan di Ibu Kota Jakarta, Indonesia pada hari Senin hingga Jumat di jam-jam padat. Namun, ada pengecualian untuk dua hari, di mana festival kegamaan berlangsung. Skema aturan dari Pemerintah New Delhi dianggap cukup membantu. Namun, para aktivis lingkungan terus menyerukan agar tindakan yang lebih besar segera dilakukan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA