Monday, 11 Safar 1442 / 28 September 2020

Monday, 11 Safar 1442 / 28 September 2020

Trump Sebut Ada Orang Ketiga dalam Komando Baghdadi

Rabu 13 Nov 2019 12:06 WIB

Red: Ani Nursalikah

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

Foto: AP
Baghdadi bunuh diri pada Oktober lalu dalam penyerbuan oleh pasukan AS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat (AS) mengendus keberadaan tokoh ketiga dalam komando pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi, Selasa (12/11). Baghdadi bunuh diri pada Oktober lalu dalam penyerbuan oleh pasukan AS.

"Kami telah mengawasi yang ketiga. Ketiganya memiliki banyak masalah sebab kita juga mengetahui di mana dia," kata Trump saat sesi tanya jawab seusai pidato di Economic Club of New York.

Sejak kematian Baghdadi, AS dan Turki menargetkan kemungkinan sejumlah penerus dan simpatisan serta menangkap anggota keluarga demi mencegah kebangkitan kelompok teroris tersebut. Trump tidak menyebutkan target baru. Awal November ini AS mengaku sedang menyelidiki Abu Ibrahim al-Hashemi al-Quraishi, yang ditunjuk sebagai pemimpin baru ISIS.

Baca Juga

photo
Akhir kisah Abu Bakr al-Baghdadi

Peneliti di Swansea University yang berfokus pada ISIS, Aymenn al-Tamimi, mengatakan, nama pemimpin baru itu tidak diketahui. Tapi, bisa saja merujuk pada tokoh terkemuka ISIS yang disebut Haji Abdullah yang diidentifikasi oleh Departemen Luar Negeri AS sebagai pengganti Baghdadi. Seorang mantan tokoh senior dalam kelompok saingan Islam Alqaidah di Irak, ia juga dikenal sebagai Mohamed Said Abdelrahman al-Mawla.

Menurut para pakar, kematian Baghdadi diprediksi akan menyebabkan ISIS terpecah, sehingga meninggalkan siapa pun yang muncul sebagai pemimpin barunya dengan tugas menarik kelompok itu kembali sebagai kekuatan tempur.

Kematian Baghdadi menimbulkan perdebatan apakah kehilangan pemimpinnya dengan sendirinya akan memengaruhi kemampuan kelompok itu atau tidak. Bahkan, jika memang menghadapi kesulitan dalam transisi kekuasaan, ideologi yang mendasari dan kebencian sektarian yang diusung ISIS tetap dapat menarik bagi pengikutnya.

"Saya pikir, mereka mencoba mengirim pesan, 'Jangan berpikir Anda telah menghancurkan proyek hanya karena Anda telah membunuh Abu Bakar al-Baghdadi dan juru bicara resmi,’" kata Tamimi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA