Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Maksiat Bersampul Taat

Selasa 12 Nov 2019 18:13 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Dua orang akhwat berswafoto sebelum melaksanakan Shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/9).

Dua orang akhwat berswafoto sebelum melaksanakan Shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (12/9).

Foto: Republika/ Raisan Al Farisi
Hijrah menjadi percuma Bila tampak taat hanya untuk menggoda akhwat salelah.

Beberapa waktu terakhir peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diselenggarakan dengan semarak di berbagai daerah. Media sosial pun juga turut meramaikan jagad maya dengan pagar #CintaNabiCintaSyariah. Bahkan, event ini menjadi momentum yang sangat sakral untuk melaksanakan berbagai tajuk kajian Islam di kalangan muda-mudi hijrah masa kini. 

Kain tudung berjuntai panjang menutup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak malu lagi anak muda mengenakan busana yang biasanya dikenakan oleh ibu-ibu pengajian. Karena modisnya juga mengikuti selera mereka, mulai warna hingga pernak-pernik aksesori yang cantik ala milenial.

Hanya, apresiasi ini justru minim edukasi yang tepat. Seperti ada beberapa motivasi hijrah yang hanya ingin menikah. Memang tidak salah, tapi ada baiknya juga digiring bagaimana menghadapi risiko jika meraihnya dengan cara yang salah. Istilah taaruf yang aktivitasnya tidak sama dengan pacaran.

Mengutip tanggapan polisi muda Bagas Maulana di akun Ig-nya, beliau berpendapat bahwa laki-laki yang baik itu tidak menggunakan cara-cara modus untuk menggoda akhwat salehah dengan memancing pernyataan “Boleh nggak aku pinjam namamu untuk seperti malamku,” begitu katanya.

Cara-cara seperti itu hanya dibungkus label Islam tapi jauh dari tatanan syariat-Nya. Untuk tidak berkhalwat dan saling mesra meski kata-katanya Islami. Jika hijrah hanya sebatas ingin tampak sholih, di hadapan Allah tidak bernilai apa pun jika sudah salah niat dari awalnya. 

Menikah ialah perkara ibadah yang kesenangannya tidak semanis cinta putri cinderella, apalagi dengan problematika hidup serba konsumtif dan hedonis dan saat ini, sulit untuk menahan godaan 3 F (fun, food, and fashion). Berbagai makanan yang menggiurkan, kesenangan yang viral serta pakaian yang modis memotivasi suasana kehidupan milenial.

Shalat terus tetapi maksiat juga jalan istilahnya STMJ.  Angka perceraian usia pernikahan yang dini pun juga banyak dilatarbelakangi perselingkuhan dan biaya ekonomi, rata-rata pertahunnya ada sebanyak 1.500 kasus perceraian itu terjadi. Inilah yang harus disadari perkara asmara muda mudi harus dibekali dengan iman yang tinggi dan memahami sisi lain dalam memaknai kehidupan hakiki.

Pengirim: Istiqomah, Pegiat Literasi Kepulauan Riau

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA