Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

FIK UI Sosialisasi Setop Stigma TBC di Depok

Selasa 12 Nov 2019 15:49 WIB

Red: Agus Yulianto

Pasien Tuberkulosis melihat hasil ronsen dadanya. (Ilustrasi)

Pasien Tuberkulosis melihat hasil ronsen dadanya. (Ilustrasi)

Foto: EPA
Tim juga melakukan kegiatan skrining terduga TB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - -  Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang terdiri atas Dosen dan Mahasiswa Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) menggelar program bertajuk “Surveillance, Pencegahan Penularan Penyakit, dan Stop Stigma TBC”. Rangkaian Pengmas diselenggarakan di wilayah kelurahan Curug Beji, Depok mulai dari Juni hingga November 2019.

Kegiatan ini melibatkan komponen Petugas Kesehatan Puskesmas, Perangkat Kelurahan, Ketua RW, serta kader kesehatan, dan masyarakat wilayah setempat. Rangkaian program berupa pembentukan dan penyegaran kader TB, pengarahan modul pendampingan pasien TB, edukasi penyakit TB ke beberapa RW di wilayah Kelurahan Beji, dan juga kunjungan ke rumah pasien TB untuk memantau dan mengevaluasi teknik pemberian dukungan Pemantau Menelan Obat (PMO).

Selain itu, para dosen dan mahasiswa FIK UI memberikan penyuluhan dan latihan pencegahan penularan TB di rumah-rumah, serta membentuk alur rujukan antara Puskesmas Beji dengan RSUI untuk penatalaksanaan pasien TB. Tidak lupa, Tim juga melakukan kegiatan skrining terduga TB di masyarakat untuk memeriksa potensi kasus baru TB di wilayah RW masing-masing.

Ketua Pengmas FIK UI Astuti Yuni Nursasi menuturkan, latar belakang mengapa program ini dibentuk. Hal ini mengingat kondisi kesehatan klien TB yang menurun seiring ada kemungkinan timbulnya penyakit kronik dan risiko penularan yang akan menjadi rantai keberlanjutan peningkatan kejadian TBC di masyarakat.

"Berbagai permasalahan kesehatan yang dialami keluarga dengan klien TB adalah penularan penyakit, kurangnya informasi tentang tata cara perawatan di rumah, minimnya kontrol minum obat hingga tuntas dan kurangnya pemberian dukungan sehingga memunculkan stigma diri dan masyarakat, " kata Astuti dalam rilis yang diterima Republika.co.id , Selasa (12/10).

Karena itu, ucap dia, pengmas ini menekankan bagaimana pentingnya untuk melatih keterampilan anggota keluarga yang merawat klien TB di rumah agar tahu, mau dan mampu dalam mencegah penularan penyakit dan membantu perawatan yang tepat, serta mengeliminasi stigma yang muncul di masyarakat tentang informasi TBC yang salah.

Diharapkan, kata Astuti, program ini terbukti dapat meningkatkan perilaku dan dukungan pengobatan tuntas. Juga adanya pemberdayaan masyarakat dan advokasi ke pemangku kebijakan dalam penanganan masalah kesehatan TBC sebagai bagian dari peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

"Sebagai pelaku Keperawatan Komunitas yang menjadi bagian integral dari layanan kesehatan, program ini menjadi aksi dan kontribusi nyata sivitas akademika FIK UI yang bergerak melalui upaya promotif dan preventif. Masyarakat sehat dan mandiri menjadi cerminan negara maju, " ujarnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA