Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

IHSG Berpotensi Terkoreksi Akibat Faktor Global

Selasa 12 Nov 2019 09:27 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolanda

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Keraguan kesepakatan perang dagang AS dengan Cina semakin jauh dari harapan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah pada perdagangan Selasa (12/11). IHSG melemah ke level 6135.493 dari penutupan perdagangan sebelumnya di level 6148,740. Perdagangan IHSG sepanjang hari ini pun diproyeksi rawan terkoreksi. 

Menurut Kepala Riset Valbury Sekuritas, Alfiansyah, IHSG hari ini dipengaruhi faktor global yang masih memperlihatkan sentimen negatif. "Keraguan kesepakatan perang dagang AS dengan Cina semakin jauh dari harapan, sentimen ini dapat berimbas bagi pasar saham Indonesia yang rawan kembali untuk terkoreksi," ujar Alfiansyah, Selasa (12/11).

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pasar terkejut dengan menyatakan AS belum setuju untuk menarik kembali tarif yang sebelumnya dikenakan terhadap Cina. Trump menjelaskan AS belum mencapai kesepakatan dan menekankan bahwa AS tidak akan menghilangkan semua tarif. Trump mengkoreksi karena ada laporan yang salah tentang kesediaan AS untuk menaikkan tarif sebagai bagian dari perjanjian fase pertama.

Hong Kong merilis pembacaan awal untuk data pertumbuhan ekonomi periode kuartal III 2019 membukukan kontraksi sebesar 3,2 persen qtq. Sebelumnya pada kuartal II 2019 perekonomian Hong Kong juga terkontraksi 0,4 persen qoq, pertumbuhan ekonomi yang kembali negatif pada kuartal III 2019 menjadi sinyalemen Hong Kong mengalami resesi untuk kali pertama sejak tahun 2009.

Sementara itu, sentimen pasar dari dalam negeri yaitu peningkatan cadang devisa RI yang mencapai 126,7 miliar dolar AS per Oktober 2019 atau naik dibandingkan posisi September sebesar 124,3 miliar dolar AS diharapkan memberikan optimistis bagi pelaku pasar atas perekonomian dalam negeri. 

Peningkatan cadangan devisa diarahkan untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi. Bahkan cadangan devisa ini berdampak pada realisasi penerimaan BI yang mencapai Rp 30,82 triliun, setara dengan 113 persen dari target Anggaran Tahunan Bank Indonesia 2019 sebesar Rp 27,15 triliun. 

Secara rinci, realisasi penerimaan berasal dari hasil pengelolaan aset valas mencapai Rp 30,77 triliun, melampaui target ATBI tahun ini yang mencapai Rp 27,02 triliun. Pengelolaan aset tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 29,26 triliun.

Bank Indonesia (BI) memproyeksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga akhir tahun ini di kisaran Rp 14.000-14.400 per dolar AS, sedangkan pada tahun depan nilai tukar rupiah berada dikisaran Rp 13.900-Rp 14.300 per USD. 

BI melihat ada tiga faktor yang harus dicermati terkait ekonomi global yang masih bergejolak, yakni  pertumbuhan ekonomi dunia yang terus menurun, melemahnya arus aliran dana asing dan aksi dari bank sentral negara lain yang telah melakukan pelonggaran. Sementara itu, BI mengklaim kerja keras yang dilakukan telah menunjukkan kinerja ekonomi relatif membaik dibandingkan banyak negara yang menunjukan penurunan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA