Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

FKM UI Soroti Pentingnya Deteksi Dini Stunting

Senin 11 Nov 2019 10:50 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Muhammad Hafil

Anak-anak yang mengalami stunting cenderung bertubuh kerdil

Anak-anak yang mengalami stunting cenderung bertubuh kerdil

Foto: BBC
Warga diharap berpartisipasi cegah stunting.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menyoroti pentingnya deteksi dini terhadap stunting. Salah satu upaya FKUI ialah pemberdayaan kader dan perangkat di 4 Desa wilayah Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.

Baca Juga

Ketua Tim Pengabdi Masyarakat FKM UI Evi Martha mengatakan kegiatan ini hasil kerjasama
dengan Kecamatan Babakan Madang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Pemberdayaan dikemas dalam pelatihan, diskusi dan tanya jawab, praktek serta pemutaran film bertemakan stunting.

Evi memandang keterlibatan warga dalam upaya pengenalan stunting  dapat menjadi pintu masuk pencegahan stunting yang lebih komprehensif. Khususnya sejak masa pra konsepsi sampai 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK).

"Kami berharap model atau pendekatan ini ke depannya dapat diaplikasikan dan meluas ke desa-desa lainnya, sehingga masyarakat mempunyai pengetahuan tentang stunting dan mempunyai kemampuan untuk mendeteksi, mencegah dan mengatasinya," katanya dalam siaran pers, akhir pekan ini.

Ia menyayangkan stunting masih bukan dianggap masalah serius. Padahal stunting merupakan dampak dari keadaan kurang gizi yang terakumulasi dalam jangka waktu lama dan berpotensi menjadi masalah kesehatan masyarakat.

"Hal itu terjadi akibat adanya peningkatan risiko angka kesakitan dan angka kematian, berkurangnya kapasitas fisik, dan terhambatnya perkembangan fisik serta mental anak, akibat kurangnya asupan gizi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal," jelasnya.

Ia menyampaikan program ini didasari permasalahan jumlah balita stunting cukup tinggi di Indonesia. Satu diantara 3 balita mengalami stunting dan angka penurunan kejadian stunting masih tergolong kecil dari tahun ke tahun.

Hal ini sudah menjadi perhatian pemerintah dengan ditetapkannya stunting sebagai program prioritas di bidang kesehatan. Berdasarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor tahun 2018 diketahui bahwa prevalensi anak balita stunting di Kabupaten Bogor sebesar 38,1 persen. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan  wilayah lain di Jawa Barat seperti Depok prevalensi balita stunting sebesar 25,7 persen.

“Kami mengandeng lintas sektor agar para kader dapat masuk ke tengah masyarakat, mulai dari interaksi dengan ibu hamil, ibu, bayi, dan balita maupun keluarga di sekeliling ibu dan anak.

Diharapkan dengan upaya melibatkan kader dan perangkat desa dapat mendeteksi dini stunting pada balita serta mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas," tutur Evi.

Diketahui, program ini berlangsung di Desa Citaringgul (pada 21 Oktober 2019), Desa Cipambuan (22 Oktober 2019), Desa Sentul (28 Oktober 2019), dan Desa Kadumanggu (29 Oktober 2019). Pada akhir kegiatan, peserta membuat rencana tindak lanjut pasca-pelaksanaan pelatihan berupa sosialisasi dan edukasi oleh setiap peserta pelatihan kepada sekurang-kurangnya lima ibu hamil, ibu bayi, keluarga, kader yang lain dan masyarakat di lingkungannya. Sehingga di akhir kegiatan diharapkan setidaknya sekitar 300-350 orang sudah terpapar tentang stunting dengan baik. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA