Tuesday, 12 Safar 1442 / 29 September 2020

Tuesday, 12 Safar 1442 / 29 September 2020

Yogyakarta Kampanyekan Gerakan Setop Hoaks

Ahad 10 Nov 2019 23:31 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Ani Nursalikah

Berita palsu atau hoaks.

Berita palsu atau hoaks.

Foto: Pixabay
Melawan hoaks membutuhkan keseriusan agar Indonesia dihargai di level internasional.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Masyarakat Yogyakarta memperingati Hari Pahlawan lewat cara yang berbeda. Kali ini, dilaksanakan dengan mendengungkan suatu gerakan untuk menyetop penyebaran berita bohong di Indonesia.

Kampanye digelar di Jalan Mangkubumi, sebelah selatan Tugu Pal Putih, titik historis di Yogyakarta. Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji mengatakan, kampanye dipusatkan lewat panggung Setop Hoaks Indonesia.

"Sebagai bagian dari rangkaian aktivitas edukasi dan kampanye publik tentang literasi digital dan semangat anti-hoaks," kata Septiaji, Ahad (10/11).

Ia menerangkan, kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Mafindo dengan berbagai komunitas di Yogyakarta, seperti Komunitas Biola, Gugat Rerasan, Perempuan Berkebaya, Roro Beras Kencur, dan Tepi Bayu. Aksi diramaikan komunitas sepeda onthel yang menghampiri lokasi. Ada pula fun run dan fun bike, serta senam zumba yang semuanya dilakukan dengan semangat kegembiraan.

Ia menekankan, melawan hoaks membutuhkan keseriusan agar Indonesia dihargai di level internasional. Tapi, penting pula menjaga semangat kebangsaan.

"Tanpa meninggalkan sisi penting manusia, semangat kegembiraan," ujar Septiaji.

Untuk itu, Mafindo mengucapkan terima kasihnya atas kerja keras tim setop hoaks Indonesia yang didukung ratusan relawan. Mereka telah pula memproduksi video dan rencana soal edukasi literasi digital.

Selain itu, Mafindo memberi apresiasi kepada berbagai pihak yang telah terlibat. Mulai dari Polda DIY, Diskominfo DIY, KPU DIY, Bawaslu DIY, Pemkab/Pemkota di DIY dan masyarakat Yogyakarta. Ia mengingatkan, bangsa ini pernah terpecah-belah, jadi korban devide et impera yang membuatnya terjajah ratusan tahun. Tapi, pada 10 November 1945, bangsa ini menunjukkan perjuangannya melawan penjajah.

Untuk itu, Septiaji menekankan, sebagai anak cucu pendiri bangsa kita semua bertugas melanjutkan kemerdekaan yang amat mahal ini, termasuk, dengan menjaga agar tidak terpecah belah memasuki peradaban digital.

Septiaji mengajak masyarakat menjadi pribadi yang bertanggung jawab dalam mengelola dan menyebarkan informasi serta menjauhkan masyarakat dari kekacauan informasi. "Dari Yogyakarta untuk Indonesia, kami mendeklarasikan semangat perjuangan untuk terus melawan hoaks dari bumi Indonesia," kata Septiaji.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA