Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Mentan Bentuk Unit Khusus Tangani Wabah Demam Babi Afrika

Sabtu 09 Nov 2019 00:20 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Demam babi Afrika menjangkit babi ternak.

Demam babi Afrika menjangkit babi ternak.

Foto: Pixabay
Demam babi Afrika melanda peternakan di Sumatra Utara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo akan membentuk unit khusus mulai dari tingkat nasional sampai dengan tingkat peternakan dalam rangka menanggulangi wabah demam babi afrika (African swine fever). Ia juga telah menyurati para gubernur dan bupati agar mengisolasi kasus penyakit pada hewan tersebut.

"Saya sementara ini membentuk desk langsung, baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten sampai dengan desk di tingkat peternakannya seperti apa," ujar Mentan Syahrul Yasin Limpo di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan bahwa sekarang ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Namun, yang paling penting melakukan isolasi dan pengendalian.

"Balai karantina akan menjalankan hal tersebut secara ketat," kata Mentan Syahrul Yasin Limpo.

Mentan juga mengimbau agar masyarakat tidak mudah mempercayai berita-berita hoaks, seperti demam babi Afrika ini berubah menjadi cacar babi yang bisa menjangkiti atau menular ke manusia.

"Sesuai apa yang saya dapatkan dari pendekatan akademis dan sumber-sumber terpercaya lainnya, ternyata penyakit tersebut tidak menular kepada manusia," tegas Mentan.

Ribuan ternak babi di Provinsi sumatra utara (Sumut) yang mendadak mati diduga tidak hanya terjangkit virus hog cholera alias kolera babi , melainkan juga terindikasi virus African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika. Hal itu berdasarkan hasil uji laboratorium sampel bangkai babi di Medan yang dilakukan Balai Veteriner Medan.

Kepala Balai Veteriner Medan Agustia MP mengatakan bahwa untuk membuktikan adanya demam babi Afrika harus dilakukan uji lab berkali-kali. Ia menjelaskan, virus tersebut belum pernah ada di Indonesia dan belum ada obatnya.

Virus tersebut memiliki serangan yang cepat dan sistemik. Babi yang diserang tidak kelihatan sakit, namun bisa tiba-tiba mati. Virus ASF ini masuk ke dalam tubuh dan mematikan organ-organ.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatra Utara mencatat ada 11 Kabupaten/Kota yang terkena wabah virus kolera babi, yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Samosir. Dari 11 kabupaten/kota tersebut sebanyak 4.682 ekor babi dilaporkan mati akibat virus ini.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA