Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Sunday, 29 Jumadil Akhir 1441 / 23 February 2020

Usulan IGI ke Mendikbud Dinilai Masih Butuh Banyak Kajian

Rabu 06 Nov 2019 15:23 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa (kiri) menyimak arahan Presiden Joko Widodo saat rapat terbatas penyampaian program dan kegiatan bidang pembangunan manusia dan kebudayaan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa (kiri) menyimak arahan Presiden Joko Widodo saat rapat terbatas penyampaian program dan kegiatan bidang pembangunan manusia dan kebudayaan di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Perlu dilihat kesiapan pendidikan-pendidikan nonformal.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penghapusan Bahasa Inggris di SMP dan SMA menjadi salah satu usulan Ikatan Guru Indonesia (IGI) ke Mendikbud. Namun, usulan itu dinilai masih memerlukan banyak kajian.

Kepala Sekolah SMAN 1 Yogyakarta, Mifta Kodin mengingatkan, kondisi siswa di Indonesia sangat beragam. Sedangkan, ia melihat, mata pelajaran Bahasa Inggris sangat dibutuhkan pada abad ini.

"Bisakah memastikan semua siswa Indonesia kompeten Bahasa Inggris bila tidak dimasukkan dalam kurikulum? Kalau bisa silakan, analisisnya seperti apa," kata Mifta kepada Republika, Rabu (6/11).

Mifta menekankan betul pentingnya kajian-kajian dan analisis-analisis sebelum penerapan usulan tersebut. Termasuk, Mifta menekankan, perlu dilihat kesiapan pendidikan-pendidikan nonformal.

Selain itu, IGI turut mengusulkan pendidikan karakter dijadikan salah satu mata pelajaran utama di SD. Mifta cukup sependapat untuk usulan-usulan yang bertujuan menguatkan pendidikan karakter.

Ia melihat, pendidikan karakter memang cukup penting ditanamkan kepada siswa-siswa sejak usia dini seperti TK dan SD. Sehingga, porsinya bisa dikurangi di jenjang-jenjang pendidikan setelahnya.

"Pendidikan karakter sebagai pondasi jadi sangat penting untuk pendidikan dasar, TK-SD 100 persen, SMP 75 persen, dan SMA 50 persen," ujar Mifta.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA