Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

CIPS: Sejak 2014, Harga Beras Domestik Melonjak 26 Persen

Rabu 06 Nov 2019 16:24 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Pedagang menjual beras dengan berbagai harga

Pedagang menjual beras dengan berbagai harga

Foto: Republika.co.id
Kenaikan harga beras di pasar internasional hanya 12 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga riset Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), menyatakan harga beras dari waktu ke waktu terus mengalami kenaikan. Peningkatan harga beras domestik juga tercatat jauh lebih tinggi daripada rata-rata internasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia yang dihimpun CIPS, harga beras di Indonesia terus meningkat sekitar 26 persen. Sementara, kenaikan harga beras di pasar internasional hanya 12 persen.

Baca Juga

Meski ketersediaan beras ada, nyatanya tidak merata dan kerap tak terjangkau. "Tingginya harga pangan di Indonesia sangat merugikan masyarakat. Bagi masyarakat miskin, mereka bisa menghabiskan 50 - 70 persen pendapatan untuk makanan," kata Peneliti CIPS, Felippa A Amanta dalam Siaran Pers CIPS, Rabu (6/11).

Felippa menuturkan, besarnya proporsi pengeluaran untuk makanan membuat masyarakat sangat rentan terhadap gejolak harga komoditas pangan. Hal itu secara langsung mempengaruhi pola konsumsi pangan harian.

Dari hasil penelitian CIPS diketahui, setiap kenaikan harga beras sebesar Rp 1.000 per kilogram (kg) dapat mengurangi konsumsi beras sebesar 0,67 kilogram (kg). Hal itu menyebabkan risiko tidak terpenuhinya angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan sebesar rata-rata 2.150 kilo kalori.

"Tidak tercukupinya AKG yang diamanatkan Permenkes Nomor 75 Tahun 2013 itu dikhawatirkan berkontribusi terhadap tingginya risiko malnutrisi dan stunting di Indonesia," kata dia.

Lebih lanjut, Felippa menjelaskan, faktor tingginya harga pangan, terutama beras di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya yakni tantangan produksi pertanian seperti perubahan iklim dan cuaca, infrastruktur irigasi yang belum memadai, kurangnya sumber air bersih dan penggunaan teknologi, berkurangnya lahan pertanian, petani yang semakin sedikit dan menua, serta rendahnya produktivitas pertanian.

Selain itu, produk pertanian juga harus melalui rantai distribusi yang panjang. Panjangnya rantai distribusi menyebabkan tingginya biaya transportasi yang pada akhirnya akan memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.

Industri pengolahan makanan dan minuman pun mengalami tantangan tersendiri, seperti banyaknya regulasi yang menambah ongkos dan adanya keterbatasan impor bahan baku.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA