Thursday, 5 Jumadil Akhir 1441 / 30 January 2020

Thursday, 5 Jumadil Akhir 1441 / 30 January 2020

Menag Fokus Isu Radikalisme, Begini Saran MIUMI Aceh

Rabu 06 Nov 2019 16:05 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Menteri Agama Fachrul Razi menjadi khatib shalat jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (1/11).

Menteri Agama Fachrul Razi menjadi khatib shalat jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (1/11).

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
MIUMI Aceh meminta Menag fokus pada pembinaan umat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh menyatakan persoalan radikalisme bukan tupoksi menteri agama (menag). Maka tidak pantas menag menjadikannya sebagai salah satu prioritas agenda kerjanya.   

Baca Juga

Ketua MIUMI Aceh, Ustaz M Yusran Hadi, mengatakan pernyataan menag tentang radikalisme menjadi kontra produktif dan blunder bagi dirinya dan lembaga yang dipimpinnya. Akibatnya menghilangkan marwah Kementerian Agama (Kemenag) dan kepercayaan rakyat. Juga menjadi blunder dan citra buruk bagi pemerintahan Jokowi.

"Seharusnya menag fokus memikirkan tupoksi kerja dan lembaga yang dipimpinnya, selama ini banyak permasalahan di Kemenag yang harus diperbaiki seperti korupsi, jual beli jabatan, kinerja buruk, kesejahteraan pegawai dan lainnya," kata Ustaz Yusran kepada Republika.co.id, Rabu (6/11).

Dia mengingatkan menag agar tidak sibuk memikirkan sesuatu yang bukan tugasnya. Masih banyak permasalahan yang harus dituntaskan, terutama membereskan paham-paham menyimpang yang berkembang di Indonesia. 

Menurutnya, paham-paham menyimpang berpotensi memecah belah persatuan bangsa dan NKRI. Ini yang seharusnya menjadi perhatian dan prioritas menag. 

Ustaz Yusran juga berharap kepada Menag Fakhrul Razi untuk fokus melaksanakan tugas yang diamanahkan oleh undang-undang agar Kemenag menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

"Selama ini Kemenag mendapat stigma negatif dari masyarakat terkait kasus korupsi, jual beli jabatan, liberalisme, sekulerisme dan lainnya. Persoalan ini harus menjadi prioritas kerja menag," ujarnya.

Alumni Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah-Arab Saudi ini juga menyayangkan pernyataan menag tentang radikalisme. Menurutnya, pernyataan menag telah membuat kegaduhan umat Islam dan bangsa Indonesia. Sepatutnya seorang menag memberikan pernyataan yang menyejukkan dan menyatukan umat, bukan membuat polemik dan masalah.

Ustaz Yusran mengatakan, pernyataan menag tentang radikalisme telah menyinggung dan menyakiti umat Islam. Bahkan dianggap telah mendiskriditkan Islam. 

"Karena selama ini isu radikalisme itu propaganda musuh-musuh Islam dan orang-orang Islamofobia yang ditujukan kepada Islam dan umat Islam, jelasnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA