Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

MUI Dorong Umat Islam Peduli Eco-Masjid

Rabu 06 Nov 2019 16:00 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Masjid

Ilustrasi Masjid

Foto: Foto : MgRol112
Eco-Masjid tak hanya bangunan yang ramah lingkungan tetapi juga jamaah dan manajemen.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (PLH) dan Sumber Daya Alam (SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus berupaya meningkatkan kepedulian Muslim terhadap eco-masjid. Sehingga umat Islam semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan.

Ketua LPLH dan SDA MUI, Hayu Susilo Prabowo mengatakan, konsep eco-masjid atau masjid ramah lingkungan diterapkan supaya kegiatan keagamaan tidak mencemari lingkungan dan berlebihan menggunakan sumber daya serta energi. Salah satu contoh eco-masjid menggunakan air sebanyak tiga per empat liter untuk sekali wudhu sesuai sunah. 

Baca Juga

Jadi kalau sekali wudhu menggunakan air sebanyak lima liter termasuk berlebihan dalam menggunakan sumber daya air. Contoh lainnya mengurangi penggunaan plastik untuk membungkus makanan saat buka puasa di masjid. Supaya pencemaran lingkungan akibat plastik semakin berkurang. 

“Jadi masjid ramah lingkungan ini tidak hanya bangunan masjid yang ramah lingkungan tapi manajemen, dewan kemakmuran masjid dan jamaahnya (ramah lingkungan), ini yang kita berikan pencerahan,” kata Hayu kepada Republika, Selasa (5/11) malam.

Ia menyampaikan, umat harus menyadari pentingnya menjaga lingkungan dan berhemat menggunakan sumber daya alam serta energi. Contohnya wilayah Jakarta diprediksi akan kekurangan air jika air tidak digunakan dengan bijaksana.

Sebagai upaya meningkatkan kesadaran Muslim terhadap petingnya menerapkan konsep eco-masjid. Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan (Puslatmas PGL) menggelar pelatihan pengelolaan masjid ramah lingkungan atau eco-masjid di Masjid Istiqlal pada 5-7 November 2019.

LPLH dan SDA MUI menjadi pelatih dalam kegiatan yang diselenggarakan Puslatmas PGL dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu. Peserta pelatihan diajari tentang konservasi air dan energi, praktik konservasi air, praktik pengelolaan sampah dan penyusunan rencana aksi. Setelah puluhan pengurus masjid dan dai mengikuti pelatihan ini, MUI berharap pengurus dan jamaah masjid minimal memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap eco-masjid.

Hayu mengatakan, setelah jamaah dan pengurus masjid memiliki kesadaran, selanjutnya mereka diajari untuk menghemat sumber daya air dan mengelola sampah dengan baik. Tapi perubahan perilaku jamaah masjid yang menjadi peduli terhadap lingkungan harus diikuti dengan perubahan fasilitas masjid. 

“Jadi misalnya kita tidak boleh buang sampah sembarangan di masjid, tapi tempat sampahnya tidak ada, jadi jamaah mau buang sampah di mana," ujarnya.

Ia menambahkan, misalnya jamaah harus hemat air wudhu, maka masjid harus memfasilitasi keran yang didesain untuk hemat air. Intinya kesadaran jamaah terhadap pentingnya menerapkan konsep eco-masjid harus berjalan bersamaan dengan penyediaan fasilitas masjid yang eco-masjid.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA