Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Angin Segar Bagi Petani Indonesia

Rabu 06 Nov 2019 07:37 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petani sedang menggarap lahan (ilustrasi).

Petani sedang menggarap lahan (ilustrasi).

Foto: kementan
Petani Indonesia raih angin segar dengan rencana pemerintah bangun lumbung

Hari Pangan Sedunia (HPS) Ke-39 pada 2 Nopember 2019 bertema internasional 'Our Actions Are Our Future. Healthy Diets for a #ZeroHunger World' dan bertema nasional 'Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia lumbung pangan Dunia 2045'.  

Baca Juga

Indonesia berpotensi besar untuk mewujudkan kedaulatan pangan tersebut. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan Kementan terus bekerja keras dalam menerapkan Teknologi Industri Pertanian untuk mewujudkan peningkatan dan kesejahteraan petani dan pemenuhan lumbung pangan dunia 2045.

Masih dengan isu yang sama seperti pemerintahan periode sebelumnya, bahwa Indonesia berpeluang besar untuk mewujudkan ketahanan pangan. Negeri agraris dengan kekayaan air dan matahari yang berlimpah, membuat berbagai jenis tanaman mudah tumbuh. Fokus menjadikan lumbung dunia, tentunya dengan terlebih dahulu membuat lumbung bagi anak negeri.

Hal ini terjadi di Cirebon. Ketika ditemukan adanya 85 desa rawan pangan di Kabupaten Cirebon. "Tahun ini masuk data prioritas pertama yang harus segera mempunyai lumbung pangan masyarakat desa (LPMD)," demikian diungkapkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan H Muhidin MM kemarin (3/11).

Indikasi kondisi rawan pangan ditetapkan karena kurang terpenuhinya ketersediaan lahan, air bersih serta infrastruktur. Selain itu, masih minim memiliki sarana toko atau warung, tenaga bidang kesehatan dan masih banyaknya jumlah orang miskin. 

Hal ini perlu kiranya mendapat perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat. Ironis jika kita dapati fakta petani yang hidup miskin di negeri agraris. Saat para petani memutuskan alih profesi, menjadi buruh bangunan atau pabrik sebab semakin sulit kesempatan bercocok tanam. 

Tanpa pendampingan dan penjagaan dari penguasa, maka kesejahteraan petani tidak tersentuh.  Sebagaimana terjadi beberapa waktu sebelumnya tatkala derasnya keran impor membuat produk lokal tumbang. Karena kalah bersaing, hasil petani kita tidak laku di pasaran. Sehingga habislah modal petani saat ingin membuka lahan baru. 

Untuk mengatasi desa rawan pangan, pemerintah daerah akan membangun lumbung pangan desa. Minimal mampu menampung sebanyak 10 ton gabah kering giling atau ukuran lumbung 8 x 10 meter, demikian disampaikan Muhidin.

Lebih lanjut kiranya tidak hanya membangun lumbung. Tapi perlu kerjasama lintas Kementerian dan Lembaga, agar semua daerah memprioritaskan urusan pangan dan nasib petani tanah air. Agar selanjutnya dapat meningkatkan level ketahan pangan di negeri sendiri.

Pengirim: Lulu Nugroho, Muslimah Penulis Cirebon

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA