Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tanda-Tanda Resesi Ekonomi Menurut Peneliti LPEM UI

Selasa 05 Nov 2019 05:07 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Teguh Firmansyah

Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi)

Pertumbuhan ekonomi (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
Indonesia diminta untuk memitigasi dampak resesi di negara maju.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai, tanda-tanda resesi di beberapa negara maju dapat memperburuk pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2021. Dampak krisis itu harus dimitigasi secara tepat.

Baca Juga

Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu menyebutkan, kemungkinan resesi pada 2020 meningkat berdasarkan beberapa indikator. Di antaranya resesi yang ditandai kurva imbal hasil AS terbalik.

"Ketika terbalik, berarti peringatan awal resesi ekonomi di masa mendatang di negara maju. Ini sudah terjadi di AS selama 2019, bentuk kurva imbal hasil AS tahun ini memberikan sinyal resesi ekonomi di AS akan terjadi sekitar pertengahan tahun depan," jelas Febrio kepada wartawan di Jakarta, Senin, (4/11).

Kinerja sektor manufaktur global turut menunjukkan pelemahan. Hal itu terlihat di beberapa wilayah Eropa.  Negara-negara Eropa yang bergantung pada ekspor sangat merasakan dampak pelemahan perdagangan dunia.

Jerman mencatat pertumbuhan PDB negatif pada kuartal II 2019 disebabkan industri manufakturnya lebih besar dibandingkan ekonomi domestiknya.

Kondisi itu memberi tekanan besar kepada Bank Sentral Eropa (ECB) untuk terus melakukan quantitative easing pada 2020. Sementara di Jepang, dalam waktu dekat kemungkinan tidak ada kenaikan pertumbuhan ekonomi, sebab selain sektor manufakturnya melambat, kebijakan moneternya juga terbatas. Ditambah populasi masyarakatnya yang menua.

Di China, kerugian jelas dirasakan, sebagai akibat ketegangan perang dagang dengan AS yang tidak kunjung usai. Walau kinerja manufaktur mereka lebih baik dibandingkan negara maju lainnya, namun PDB rill Negeri Tirai Bambu tersebut hanya tumbuh enam persen pada kuartal III 2019.

Menurunnya perekonomian global, kata Febrio, mulai berdampak ke Indonesia terutama pada kinerja ekspor sepanjang 2019. Data menunjukkan, dari Januari sampai Agustus 2019, ekspor negatif turun delapan persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

Dengan begitu, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2019 semakin melembar di 3,04 persen. Pada kuartal sebelumnya 2,6 persen.

Ia menuturkan, jika krisis (global) terjadi, sistem keuangan Indonesia pun terpengaruh dengan memicu arus modal keluar yang akan memberikan tekanan besar pada mata uang rupiah. Hanya saja, menurutnya, jika Bank Indonesia (BI) dan pemerintah bisa memitigasi risiko, tekanan terhadap kurs rupiah tidak akan terlalu berat.

"Rupiah relatif stabil pada 2020," ujar Febrio. Inflasi, lanjutnya, aman pula pada tahun depan, meski tampaknya ada sedikit ruang untuk naik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA