Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Tsaubiyyah al-Aslamiyyah Merdeka dan Mulia

Selasa 05 Nov 2019 19:30 WIB

Red: Agung Sasongko

Oase (ilustrasi)

Oase (ilustrasi)

Foto: Wordpress.com
Rasulullah sangat memuliakan Tsaubiyyah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di masa Jahiliah, perbudakan masih merajalela dan men jadi tradisi bangsa Arab. Praktik memelihara dan jual-beli budak menjadi pemandangan lumrah. Dan, meskipun Islam perlahan menghapus budaya tersebut tetapi perbudakan berlangsung hingga beberapa dekade saat dinasti-dinasti berkuasa.

Bagi budak itu sendiri, kebebasan adalah barang yang mahal. Karenanya, bagi Tsaubiyyah al- Aslamiyyah yang diperbudak oleh Abu Lahab, paman Rasulullah, bebas adalah utopis belaka. Lepas dari jerat ke kuasaan tuannya, barang kali hanya sebuah mimpi yang akan dibawa hingga mati. 

Tetapi, Allah SWT berkehendak lain. Mimpi yang menurutnya mustahil terwujud, sebuah kebebasan, akhirnya bisa ia raih. Ia bahagia tak terkira. Peristiwa itu, kembali pada kisah mengharu-biru terkait kelahiran bayi laki-laki yang dinanti-nantikan oleh Bani Hasyim dari suku Quraisy. 

Kurang dari 50 hari menyusul upaya pe nyerangan Abrahah dengan pasukan gajahnya untuk merobohkan Ka’bah, lahir putra dari pasangan Abdullah dan Aminah. Kehadiran anak laki-laki yang kelak dibe ri nama Mu hammad tersebut, seketika meng ubah kese dihan yang menyelimuti segenap suku akibat wafatnya Abdullah dan menggeser kisah heroik Abdul Muthalib saat mengusir penguasa Habasyah tersebut dari Makkah. 

Aminah bergegas memberitahukan kabar gembira itu kepada Abdul Muthalib. Berita itu sontak membuat sang kakek girang bukan main. Ia segera menengok cucunya itu, lalu menggendongnya. Di kedua lengannya, sang cucu diajak bertawaf. Untuk meluapkan kegembiraannya, Abdul Muthalib lalu me nyembelih kambing dan membagikan makanan untuk warga Makkah. 

Kegembiraan yang sama juga dirasakan oleh Tsaubiyyah. Ia berlari untuk menghadap tuannya, Abu Lahab. Ekspresi sukacita tam pak kentara dalam diri paman Rasulullah tersebut. Sampai-sampai, ia tak tahu lagi bagaimana harus berterima kasih dan mem balas Tsaubiyyah. 

Spontan, paman yang kelak menentang dakwah Rasulullah itu menghadiahkan kemerdekaan untuk Tsaubiyyah. Ia akhirnya merdeka. Kelahiran anak laki-laki yang dinanti itu menjadi berkah baginya. Ia pun mencintainya dengan sepenuh jiwanya. 

Atas kebaikan hatinya tersebut, sebuah riwayat dari Abbas bin Abdul Muthalib mengisahkan, ia pernah melihat Abu Lahab dalam mimpi. Abbas bertanya kepada sau daranya itu, “Bagaimana kondisimu?” Ia men jawab, “Aku di neraka. Hanya saja, siksaan diperingan untukku tiap pekan satu hari dan aku meminum air dari kedua jariku. Hari itu, tepat aku merdekakan Tsaubiyyah atas berita gembira kelahiran Muhammad yang ia sampaikan kepadaku.” 

Ibunda 

Tsaubiyyah, adalah ibu persusuan Nabi. Ketika itu, air susu tak lagi keluar dari Aminah. Ini sebagai dampak depresi menyu sul kematian sang suami, Abdullah. Untuk memenuhi asupan ASI, tertunjuklah Tsaubiyyah. Rasulullah bukan balita yang pertama kali disusui oleh Tsaubiyyah. 

Sebelumnya, Tsaubiyyah pernah menyusui putranya sendiri, Masruh, Abu Salamah bin Abd al-Asad al-Makhzumi, dan paman Rasul, yaitu Hamzah. Dengan demikian, Tsaubiyyah adalah perempuan yang pertama kali menyusui Muhammad setelah ibu kandungnya, Aminah. 

Proses menyusui tersebut memang tak berlangsung lama. Riwayat menyebut hanya dalam hitungan hari, sebelum kemudian disusui oleh Halimah as-Sa’diyyah. Sedang kan, riwayat lainnya menyatakan, Tsaubiyyah menyusui Rasulullah selama empat bulan saja. 

Rasulullah sangat memuliakan Tsaubiyyah. Air susu tidak pernah dibalas dengan air tuba. Penghormatannya itu diberikan, baik sebelum turun risalah kenabian ataupun belum. Rasul menghormatinya ketika berada di Makkah dan saat berdomisili di Madinah. Rasul juga kerap memberikan perhiasan dan pakaian kepada Tsaubiyyah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Khadijah. 

Balas budi itu terus ditunjukkan hingga Tsaubiyyah menyusul putranya, Masruh, menghadap Sang Khalik. “Ibunda” Rasul itu wafat pada ketujuh Hijriah. Tepatnya, setelah penaklukkan Khaibar. Ia meninggalkan sebuah kenangan dan teladan. Ketulusan seorang ibu yang tak terbatas, sekali pun ha nya dipertemukan lewat persusuan. Tsaubiyyah yang bebas berkat Rasulullah. 

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA