Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Angka Diabetes di Jakarta Meningkat, Apa Penyebabnya?

Selasa 05 Nov 2019 15:07 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Pria melakukan pengetesan kadar gula darah atau diabetes.

Pria melakukan pengetesan kadar gula darah atau diabetes.

Foto: EPA
Prevalensi diabetes di Jakarta terus mengalami peningkatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Angka penyakit diabetes di Indonesia, khususnya DKI Jakarta, meningkat. Peningkatan prevalensi diabetes ini umumnya diakibatkan oleh penerapan pola hidup tidak sehat, seperti konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih serta tidak rutin melakukan deteksi dini.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018  menunjukkan peningkatan prevalensi diabetes yang signifikan di Indonesia, yaitu dari 6,9 persen pada 2013 menjadi 8,5 persen pada 2018. Bahkan, International Diabetes Federation (IDF) mencatat sebanyak dua dari tiga orang yang terdiagnosis tidak menyadari dirinya menyandang diabetes.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Dwi Oktavia Handayani MEpid, mengatakan bahwa penyebab utama peningkatan diabetes di Indonesia, terutama Jakarta yang telah menjadi kota metropolitan, ialah karena adanya transisi, baik itu epidemiologi, demografi, gizi, dan perilaku.

Transisi epidemiologi
Pola penyakit berubah. Dulu, orang Indonesia, termasuk Jakarta, lebih banyak terserang penyakit menular, seperti diare dan TBC. Seiring dengan kemajuan teknologi dan zaman, pola penyakit sekarang berubah menjadi penyakit tidak menular, salah satunya diabetes mellitus (DM).

Transisi demografi
Indonesia, khususnya Jakarta, mengalami bonus demografi beberapa tahun ini sampai ke depan. Usia produktif banyak, begitu pun usia lanjut. Makin lanjut usia maka jumlah diabetesi makin banyak.

Baca Juga

"Diabetes makin banyak karena faktor alamiah dan usia," ujar Dwi dalam acara peluncuran kampanye "Deteksi Dini dan Batasi Gula Garam Lemak untuk Cegah Diabetes" yang diselenggarakan Nutrifood yang berkolaborasi dengan Sumber Alfaria Trijaya di Jakarta, Selasa (5/11).

Transisi perilaku
Saat ini anak lebih suka bermain gawai. Mereka jarang bermain diluar rumah, seperti bersepeda atau lari-larian.

Akhirnya, anak menjadi kurang aktivitas fisik. Mereka lebih banyak berbaring diatas tempat tidur. Ini membuat mereka menjadi kegemukan

"Akhirnya pola metabolisme berubah akhirnya jadi pola diabetes mellitus," jelas Dwi.

Transisi gizi
Anak zaman sekarang kebanyakan tidak suka makan sayur. Di lain sisi, orang semakin dimudahkan dengan makanan sederhana yang cepat saji dan tidak sehat. Akibatnya, pemilihan pola makanan jadi fast food atau junk food yang tinggi karbohidrat, tinggi lemak, kurang serat, kurang sayur dan buah, sehingga potensi diabetes meningkat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA