Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Kayla Mueller dalam Pembunuhan al-Baghdadi

Senin 04 Nov 2019 18:26 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan
Kayla diculik oleh orang-orang bersenjata ISIS ketika keluar dari rumah sakit.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ikhwanul Kiram M as huri

Baca Juga

Ada nama seorang perempuan yang disebut dalam operasi pembunuhan Abu Bakar al- Baghdadi, pemimpin tertinggi isis (Islamic State of Iraq and Syria), pada Sabtu malam (26/10) pekan lalu. Ia adalah kayla Jean Mueller, kelahiran 1988, di Prescott, Arizona, amerika serikat (AS).

Perempuan cantik sarjana politik dari Universitas Northen Arizona ini sejak remaja merupakan aktivis hak asasi manusia dan pekerja bantuan kemanusiaan. Mula-mula ia magang di klinik penampungan wanita dan penderita HIV di Negara Bagian Arizona, AS, lalu bergabung dengan organisasi kemanusiaan internasional. Keluarga Kayla menggambarkan putrinya itu sebagai seorang perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk membantu orang lain.

Kayla selanjutnya bergabung dengan organisasi kemanusiaan di India Utara, Israel, dan Gaza serta Tepi Barat di Palestina. Di India, ia mengajar bahasa Inggris kepada para anak pengungsi dari Tibet.
 
"Selama saya masih hidup, saya tidak akan membiarkan penderitaan umat manusia, di mana pun mereka berada. Saya akan terus membantu mereka,'' ujar Kayla dalam sebuah wawancara dengan media lokal, the Daily Courier.

Pada Desember 2012, Kayla memutuskan pergi ke perbatasan suriah -Turki. Ia ingin membantu warga sipil yang menderita akibat konflik. Ia bergabung dengan lembaga kemanusiaan Denmark.

Berhari-hari ia membantu para pengungsi Suriah, terutama anak-anak. Ia juga hidup di tenda-tenda pengungsian.

Pada 4 Agustus 2013, Kayla diculik oleh orang-orang bersenjata ISIS ketika keluar dari rumah sakit yang dikelola oleh MSF (Medcins Sans Frontieres)--organisasi medis internasional tanpa batas. ISIS menuntut uang tebusan untuk pembebasannya. Namun, Presiden AS Barack obama waktu itu menolak membayar tebusan dan tidak akan memberikan konsesi kepada para teroris.

Selama 17 bulan Kayla pun hidup dalam penyanderaan orang-orang ISIS di Aleppo, Suriah, sebelum kemudian dibunuh pada 6 Februari 2015. Waktu itu usianya 26 tahun. Selama itu pula semua jenis penderitaan fisik dan psikis ia alami, dari perkosaan, pemukulan, kelaparan, hingga penghinaan.

Mula-mula ia dipakai sendiri oleh Abu Bakar al- Baghdadi sebelum kemudian digilir oleh para petinggi ISIS lainnya. Pada 10 Februari 2015, keluarga Kayla mendapatkan surat elektronik yang mengabarkan kematian putri mereka berikut tiga foto jenazah yang memperlihatkan wajahnya yang rusak.

Presiden Obama sebenarnya telah mengirimkan pasukan khusus ke Suriah untuk menyelamatkan empat warga AS yang disandera ISIS, termasuk Kayla. Namun, seperti diakui Obama, operasi itu terlambat. Para sandera tidak bisa diselamatkan.
 
"Pemerintah Amerika belum melakukan hal yang sebenarnya bisa dilakukan,'' akunya.

Dalam wawancara dengan CNN, Marsha Mueller, ibunda Kayla, menyampaikan terima kasihnya kepada Presiden Trump yang telah menuntaskan balas dendam terhadap pembunuh putrinya. "Kayla mestinya masih bersama kami. Kalau seandainya Obama tegas seperti Presiden Trump, ia pasti masih bersama kami,'' ujarnya.

Selama delapan tahun menjadi presiden, kebijakan Pemerintahan Obama di Timur Tengah memang dikenal lemah. Dari soal konflik Palestina- Israel, Libya, Yaman, hingga munculnya kelompok- kelompok radikalis-ekstremis. ISIS bisa merajalela mendirikan negara bahkan juga pada masa kepresidenan Barack Obama. Termasuk yang paling dikritik warga Amerika adalah kegagalannya membebaskan para sandera Amerika. Satu di antaranya adalah Kayla Mueller.

Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan Presiden Donald Trump. Apalagi, kini ia sangat membutuhkan panggung. Panggung untuk menghadapi impeachmentdan panggung untuk pemilihan presiden periode keduanya. Ketika ia memutuskan operasi pembunuhan terhadap al- Baghdadi, operasi itu pun dinamai dengan Operasi Kayla Mueller.

Maka, keberhasilan operasi membunuh al-baghdadi adalah benar-benar harinya Trump. Hari yang tidak sebanding ketika ia mengumumkan penarikan AS dari perjanjian nuklir Iran dan pemberian sanksi yang lebih berat kepada negara itu.

Hari yang berbeda ketika ia menerapkan tarif lebih tinggi kepada Cina, yang memicu perang dagang itu. Atau hari ketika ia mengisyaratkan untuk menghancurkan ekonomi Turki, atau pengumuman mendadak penarikan pasukan AS dari Suriah dan menjauh dari perang konyol dan tanpa akhir. Atau juga hari ketika ia mengumumkan akan bertemu dengan Presiden Korea Utara.

Bahkan juga bila dibandingkan dengan keberhasilan membunuh pemimpin Alqaidah, Usamah bin Ladin. Usamah hanya pemimpin organisasi teroris, sedangkan al-Baghdadi telah berhasil mem bentuk negara para teroris yang luas di Irak dan Suriah.

Sejak bersinggasana di Gedung Putih, Trump memang suka membuat badai. Dan ia menikmatinya. Keputusannya tiba-tiba. Ia menyerang lawan-lawannya--baik politisi di dalam negeri maupun pemimpin dunia lain--tanpa basa- basi. Trump adalah penari solo. Ia tidak suka menari tango dengan institusi atau dengan negara.

Ketika badai semakin dahsyat menghantam Trump, keberhasilan membunuh al-Baghdadi adalah hadiah besar untuknya sebagai penari solo. Maka, ia buatlah operasi balas dendam atas nama Kayla Mueller bagaikan cerita film. Tidak seperti Obama yang berbicara singkat, padat, dan langsung pada intinya ketika pasukan khusus AS berhasil membunuh Bin Ladin.

Mula-mula, Trump hanya melemparkan tweet singkat dan meminta dunia untuk menunggu sesuatu yang besar telah terjadi. Sesuatu yang besar itu baru ia ceritakan besoknya dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, yakni keberhasilan operasi pasukan elite AS, atas perintahnya, membunuh al-Baghdadi.

Keberhasilan operasi itu bermakna ia telah menghukum penjahat dunia berkelas wanted number one. Ia telah menegakkan keadilan untuk orang yang menggerogoti Amerika, monster paling ditakuti suku Yazidi, pembunuh orang-orang Kurdi, Suriah, dan Irak. Juga orang yang telah meneror masyarakat dunia.

Trump juga bicara tentang Amerika yang kuat, militernya yang hebat, senjata yang canggih, dan intelijen berbasis teknologi. Ia menyebut pasukan elite AS telah mengambil risiko besar dalam rangka operasi pembunuhan terhadap pemimpin nomor satu ISIS. Namun, katanya, tidak ada korban di pihak militer AS.

Tidak lupa pula Trump mengejek pria yang telah membuat takut dunia itu, yang puncak kejahatannya adalah bagaimana ia tega membunuh tiga anaknya. Kata Trump, al-Baghdadi bersembunyi di dalam terowongan dan membawa serta tiga anaknya.
 
Ia lantas dikejar oleh anjing serbu dan kemudian meledakkan bom rompi yang dikenakannya. "Ia tewas setelah berlari ke terowongan buntu, merintih, menangis dan menjerit sepanjang waktu,'' ujarnya. "Al-Baghdadi mati seperti anjing."

Hak Trump untuk berpesta dan mengatakan apa saja yang ia mau. Apalagi, tindak dan katanya tentang keberhasilan operasi pembunuhan terhadap al-Baghdadi kali ini tidak menimbulkan kontroversi seperti biasanya. Kali ini masyarakat dunia bertepuk tangan untuk Trump.

Pertanyaannya, apakah dengan terbunuhnya al Baghdadi, teroris akan punah? Terbunuhnya al Bagh da di bukan berarti ISIS akan terkubur bersamanya. Kelompok-kelompok seperti ISIS, Alqaidah, dan lainnya akan bisa hidup dan menyesuaikan dengan kondisi, termasuk kondisi keras sekalipun.

Kita tentu ingat ISIS lahir dan berkembang biak di tengah masyarakat negara yang sedang konflik dan pemerintahan yang lemah dan tidak didukung rakyat. Kelompok-kelompok teroris juga akan tumbuh subur di masyarakat yang terpinggirkan. ISIS lahir di Irak yang tengah pecah. Begitu juga di Suriah. Inilah pelajaran yang perlu kita ambil.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA