Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Monday, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 December 2019

Pakar: Utamakan Dampak Kunjungan Turis

Ahad 03 Nov 2019 15:11 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

Sejumlah wisatawan mancanegara mengunjungi obyek wisata Hiu Paus di Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Ahad (21/4/2019).

Sejumlah wisatawan mancanegara mengunjungi obyek wisata Hiu Paus di Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Ahad (21/4/2019).

Foto: Antara/Dian Bawenti
Agenda pariwisata tak akan efektif tanpa diimbangi kesiapan destinasi itu sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Pariwisata dari Universitas Andalas, Sari Lenggogeni mengatakan pemerintah untuk mulai memfokuskan pada dampak yang ditimbulkan dari kedatangan wisatawan mancanegara. Dampak jauh lebih penting daripada jumlah kuantitas yang datang ke Indonesia.

Baca Juga

Sari mengatakan, banyak negara di dunia saat ini yang mulai mengurangi jumlah kunjungan wisatawan asing demi melindungi keberlanjutan dari destinasi. Pemerintah semestinya sudah beranjak untuk tidak lagi sekadar mengincar kuantitas yang bisa berdampak negatif pada destinasi wisata.

"Destinasi ramai dikunjungi tapi tidak memberikan dampak signifikan juga tidak baik. Jadi saya lebih fokus ke dampak, pendapatan dan devisa yang bisa kita dapatkan," kata Sari kepada Republika.co.id, Ahad (3/11).

Lebih lanjut, Sari juga menyoroti mengenai fokus pemerintah, khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang mengadakan banyak agenda festival di 10 destinasi yang disebut 10 Bali Baru. Menurut dia, agenda-agenda pariwisata di 10 Bali Baru tak akan efektif tanpa diimbangi dengan kesiapan destinasi itu sendiri.

Kesiapan itu mencakup daya tarik pariwisata, amenitas, dan aksesibilitas. Ketiga hal itu membutuhkan ketersediaan infrastruktur dasar yang bisa menunjang kedatangan wisatawan mancangeara. Sari pun menilai, dari 10 Bali Baru yang dikembangkan pemerintah, mayoritas belum siap untuk dipromosikan ke dunia internasional.

"Kita harus berpikir preferensi produk dahulu, event belakangan. Event adalah additional di suatu destinasi. Jadi kalau mau fokus benahi event, lebih baik di destinasi yang sudah dikenal," kata Sari.

Destinasi-destinasi yang paling siap dan telah dikenal oleh masyarakat internasional seperti misalnya Yogyakarta, Solo, Semarang (Joglosemas) dan Bali. Sari menegaskan, membangun destinasi tidak bisa serba disulap dalam waktu cepat. Perlu persiapan yang matang dan bertahap, termasuk kesiapan dari para warga setempat.

"Pariwisata itu kompleks. Pemerintah jangan berpikir apa yang bisa membuat turis datang tapi apa yang membuat turis itu tidak datang? Jadi ada pembenahan dan tentu dampak kunjungan harus signifikan," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA