Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Berkacalah dari Praveen!

Ahad 03 Nov 2019 14:33 WIB

Red: Didi Purwadi

Pasangan ganda campuran Indonesia Praveen Jordan  dan Melati Daeva Oktaviani meraih gelar kedua tahun ini setelah mengalahkan pasangan China Zheng Si Wei dan Huang Ya Qiong pada turnamen Yonex Badminton French Open di Paris, Perancis, Ahad (27/10).

Pasangan ganda campuran Indonesia Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktaviani meraih gelar kedua tahun ini setelah mengalahkan pasangan China Zheng Si Wei dan Huang Ya Qiong pada turnamen Yonex Badminton French Open di Paris, Perancis, Ahad (27/10).

Foto: Yoan Valat/EPA-EFE
Seluruh duta olahraga diharap berdisiplin dalam menempa fisik, skill, dan mental.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh: Fitriyanto (@fetruk_hi)
Wartawan Republika

Mangkir dalam latihan, pulang terlalu larut malam serta tindakan tidak disiplin menjadi catatan merah yang telah ditorehkan pebulutangkis Pelatnas Praveen Jordan. Praveen hanyalah contoh kecil betapa abainya ia menjalankan tugasnya sebagai ‘abdi’ yang dipersiapkan buat mengangkat kehormatan dan muruah bangsa dan negara di pentas internasional.

Insiden itu pun membuat berang pelatih ganda campuran Indonesia, Richard Mainaky. Ia memberikan teguran keras melalui surat peringatan kedua (SP 2) kepada pasangan dari Melati Daeva Oktavianti ini. Di kalangan atlet pelatnas, Richard sejak lama dikenal tegas. Ia mengancam untuk tak sungkan mengeluarkan Praveen jika tindakan indisipliner kembali diulang.

Inilah yang diperlukan oleh seorang pelatih. Tak boleh berpilih kasih dan berpilih sikap. Sosok pelatih sudah sepatutnya menjaga iklim latihan agar bisa sesuai agenda. Rupanya, sikap tegas Richard itu disokong pula oleh publik.

Di dunia maya, cuitan-cuitan warganet membanjir untuk memberikan dukungannya kepada sang pelatih. Di sisi lain, Praveen pun menjadi korban bullying warganet yang marah mendengar tindakan indisipliner tersebut.

Beginilah dunia telah berubah. Kemajuan teknologi informasi telah memungkinkan segalanya terjadi. Paling tidak, secara positif, kemarahan warganet kepada Praveen itu karena publik sangat haus terhadap gelar.

Ya, ketika seorang atlet juara maka kebanggaan tak hanya menjadi miliknya. Gelar juara itulah yang kelak membuat penghuni negeri ini bersorak riang. Paling tidak gelar yang dipersembahkan atlet itu ibarat setetes air di tengah dahaga gelar yang melanda negeri ini, khususnya dari cabang olahraga bulu tangkis yang dulu dikenal rajin menyumbang gelar.

Maklumlah, setelah Liliyana Natsir gantung raket, Indonesia praktis hanya mengandalkan ganda putra dan sesekali diselingi sektor lainnya untuk meraih gelar juara di level internasional.

Banyak yang memperkirakan setelah kasus ini, karier Praveen akan habis. Maklum ‘nyinyiran’ warganet pasti memberikan tekanan yang sangat menggangu mental sang pemain.

Namun perkiraan tersebut mampu diputarbalikkan oleh sang pemain. Berbekal 'surat cinta' dari sang pelatih, Ucok --sapaan akrab Praveen-- membuktikannya dengan prestasi.

Tak tanggung-tanggung, dua gelar diborongnya dari penampilannya di Denmark Terbuka dan Prancis Terbuka 2019. Keduanya adalah turnamen BWF Super 750 --level kedua tertinggi turnamen bulu tangkis internasional yang berada di bawah badan bulu tangkis dunia BWF.

Lawan yang dikalahkannya pun bukan sembarang. Salah satunya adalah pemain nomor satu dunia yang dipecundanginya dua kali secara beruntun. Padahal, dalam enam pertemuan sebelumnya, Praveen/Melati tidak pernah menang dari pasangan asal Cina, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong. Dua gelar back to back ini membukakan harapan pada nomor ganda campuran untuk bisa lolos ke Olimpiade di Jepang.

Sebuah pesan penting dari kejadian indisipliner ini adalah Praveen menyadari kesalahannya dengan menebus lewat prestasi. Tapi, kami sebagai pecinta bulu tangkis tentunya tak akan sudi jika kejadian-kejadian indisipliner itu terulang kembali.

Ke depan, PBSI dan para jajaran pelatih Pelatnas sudah sepatutnya untuk memberikan guidance lebih tegas kepada seluruh atlet di Cipayung. Paling tidak, insiden Praveen itu menjadi alasan untuk memanggil setiap atlet terkait dengan motivasi dan tujuannya sebagai duta olahraga yang diwajibkan menjaga muruah bangsa.

Ingatlah, negeri ini sudah cukup gaduh dengan urusan politik domestik yang menjengahkan. Sebagai publik, kita hanya bisa berkeluh kesah. Tak sedikit juga yang saling mencela, memaki dan menjelekkan satu sama lain. Sejatinya, hal-hal semacam itu bukanlah identitas budaya timur Indonesia. Tapi, semua itu sudah terjadi.

Kini, harapan kami hanya satu. Tak hanya pada Praveen dan seluruh atlet Pelatnas bulu tangkis Cipayung, tentunya. Tapi kami menaruh harapan besar kepada seluruh duta olahraga negeri ini agar mereka berdisiplin menempa fisik, skill, dan mental agar siap bertarung di pentas internasional.

Ingatlah, ketika kalian meraih prestasi maka hal itu akan mengurangi riuh rendah makian di antara anak bangsa yang tengah ‘puber’ politik. Jadi, lanjutkan coach Richard untuk terus bersikap tegas. Semoga juga, sikap coach Richard ini bisa diikuti oleh sejumlah pelatih olahraga lainnya, termasuk cabang olahraga sepak bola yang benar-benar miskin prestasi.

Tempalah mental para atlet itu agar mereka siap mengibarkan Merah Putih di pentas internasional. Dan, membuat bangsa yang miskin prestasi ini bisa berbangga diri --paling tidak hanya lewat prestasi olahraga!

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA