Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Radikalisme, Antara Terminologi dan Persepsi

Sabtu 02 Nov 2019 12:41 WIB

Red: Elba Damhuri

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Daan Yahya/Republika
Terminologi radikal marak muncul dalam berbagai berita belakangan ini

republika .CO.ID,

Oleh asma nadia

Terminologi radikal marak muncul dalam berbagai berita belakangan ini. Lebih buruk lagi, kata tersebut kemudian disandingkan dengan Islam sehingga menjadi frasa radikal Islam.

Mencoba menelusuri kata radikal Islam melalui Google, mengantar saya pada sebuah artikel di Wikipedia dengan tema "Radical Islamism". Akan tetapi, alih-alih mendapatkan sebuah informasi, ensiklopedia daring ini hanya menulis "Radical Islamism" mengacu pada Islamic extremism, Islamic fundamentalism, Islamism Jihadism, Wahhabism.

Dari referensi tersebut, sudah mulai terlihat kekacauan persepsi akan istilah radikal Islam.

Sama-sama mari kita melihat asal usul katanya.

Pertama, terminologi "Radical Islamism". Radikal asal katanya adalah akar, dan kata akar tentu saja bernuansa positif. Sedangkan kini terminologi radikal Islam bernuansa negatif sehingga terkesan akar Islam adalah negatif.

Kedua, terminologi "Islamic extremism". Extreme atau ekstrem, mempunyai arti jumlah yang besar. Dalam kalimat tertentu extreme bernuansa netral karena bergantung pada kata yang mengiringi. Seperti kalimat contoh dalam dictionary.cambridge.org. "Drivers are warned to take extreme care on the icy roads" (Pengemudi diingatkan untuk sangat berhati-hati di jalan licin ber-es).

Akan tetapi, kini extreme mengalami penyempitan makna dan berarti negatif sebagaimana diungkap dictionary.cambridge.org: "extreme beliefs and political parties are considered by most people to be unreasonable and unacceptable" atau pemikiran dan partai politik ekstrem yang bagi kebanyakan orang dianggap tidak masuk akal dan tidak mampu diterima.

Dengan kata lain, pada terminologi "Islamic extremism", ada nuansa ajaran Islam dianggap tidak masuk akal dan tidak mampu diterima.

Ketiga, "Islamic fundamentalism". Fundament sendiri oleh dictionary.cambridge.org ditulis sebagai "the most important facts, ideas,etc. from which something is developed": atau fakta dan ide terpenting dasar terbentuknya sesuatu.

Kini, terminologi "Islamic fundamentalism" bernuansa negatif seolah dasar ajaran Islam yang negatif.

Keempat, "Islamism Jihadism". Jihad sendiri berasal dari bahasa Arab yang berakar dari kata jahada yang berarti bersungguh-sungguh. Nuansanya positif. Akan tetapi, sekarang dikonotasikan pada makna negatif dan dimaknai sempit seputar perperangan semata.

Kelima, Wahhabism. Wahabi sendiri merupakan salah satu pemikiran Islam yang cukup dominan di Arab Saudi, tapi tidak mewakili segenap umat Islam di seluruh dunia sehingga tidak bisa dikaitkan dengan keislaman Muslim di seluruh dunia.

Dari semua terminologi di atas ada satu kesamaan, di antaranya:

Semua terminologi yang telah diuraikan mempunyai nuansa negatif. Lebih buruk lagi, terminologi tersebut kian bernuansa negatif justru ketika ditempel dengan kata Islam.

Dan anehnya, kata tersebut jarang ditempelkan pada agama tertentu selain Islam, ataupun kelompok lain.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA