Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Pendidikan Indonesia, Akankah Menjadi Maju?

Jumat 01 Nov 2019 17:27 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pendidikan/Ilustrasi

Pendidikan/Ilustrasi

Foto: Antara
Pendidikan Indonesia maju bila diarahkan pada kompetensi serta iman dan takwa

Kabinet Indonesia Maju telah terbentuk. Sederet nama menteri telah tercantum di dalamnya. Nama-nama menteri baru bermunculan. Terlepas dari pro dan kontra bagi-bagi kursi ala demokrasi, rakyat juga disuguhkan dengan menteri yang tak pernah diduga sebelumnya. Salah satunya ialah menteri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem Makarim.

Menteri yang satu ini belum pernah berkecimpung memimpin dunia pendidkan. Namun beliau memiliki keahlian khusus dalam bisnis era digital. Pendiri PT Gojek Indonesia itu dipilih Jokowi ini akan memanfaatkan teknologi untuk memajukan pendidikan Indonesia. Hal ini sesuai bidang yang ditekuninya, digital untuk millenial.

Beliau mengatakan bahwa pendidikan harus berkarakter, merupakan sistem pendidikan berdasarkan kompetensi bukan nformasi. Selain itu pendidikan harus relevansi. Sesuai visi Jokowi dalam pendidikan serta menciptakan link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja (Liputan6.com, 30/10)

Penjelasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia diharapkan mampu menciptakan output pendidikan sebagai tenaga kerja terampil yang mampu menghadapi tantangan ekonomi era digital. Namun benarkah peningkatan SDM ini mampu menjadikan pendidikan Indonesia semakin maju? Mengingat dalam pendidikan tidak hanya membutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi mumpuni, melainkan juga membutuhkan karakter SDM yang baik.

Tinggginya angka pengangguran bukanlah satu satunya faktor kegagalan ekonomi. Pengangguran bukan hanya disebabkan oleh ketidakmampuan SDM negeri ini. Faktanya banyak pengangguran terdidik yang ada di Indonesia. Sehingga kurang tepat jika dikatakan SDM Indonesia hari ini dinilai kurang mumpuni dalam akademik. 

Di sisi lain, tidak sedikit ditemukan kasus problematika anak didik miskin karakter. Mulai dari etika kepada guru hingga berperilaku kriminal terhadap guru yang seharusnya ia hormati.

Belum lagi kasus kompetensi bagus namun tak diimbangi iman dan takwa. Akibatnya kepintaran ia gunakan untuk memperkaya diri sendiri dan merugikan orang lain. Ada pula kompetensi bagus namun tak didukung dengan lapangan kerja yang mencukupi. Angka pengangguran semakin tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada Februari 2019 pengangguran terbuka mencapai 6,8 juta (Beritasatu.com 10/05).

Mengapa hal ini terjadi? 

Berbicara pendidikan tentunya tidak hanya membicarakan aspek kompetensi akademik. Ada satu hal yang sangat penting yang justru hal ini menjadi dasar anak didik berperilaku. Karakter. Pendidikan berkarakter sebenarnya telah dicanangkan bahakan dijalankan dalam sitem pendidikan di Indonesia seiring dengan bergantinya kurikulum pendidikan. Namun masih belum optimal. 

Mengapa? Materi masih menjadi standar dalam segala aspek kehidupan termasuk pendidikan .Output yang diharapkan dalam konsep hari ini hanya ditujukan untuk SDM yang siap kerja, siap menopang ekonomi negara. Pendidikan karakter tak menjadi fokus meskipun dalam materi pendidikan tetap ada. Hanya sebagai teori. Oleh karena wajar jika output generasi hari ini mampu secara kompetensi akademik namun miskin karakter, iman dan taqwa.

Berbeda dengan sistem hari ini, Islam justru memiliki konsep tersendiri terkait dengan pendidikan. Jika arah pendidikan selama ini ialah materi, menjadi tenaga siap kerja, kerja dan kerja, Islam menjadikan output generasi bukan hanya mampu secara akademik melainkan melahirkan karakter unggul yaitu peningkatan iman dan takwa. 

Semakin pintar anak didik maka dirinya semakin taat dan tunduk pada Allah, Pencipta dan Pengatur hidup manusia. Akidah Islam menjadi landasan dalam penyelenggaranan pendidikan. Sehingga setiap materi pelajaran akan dikaitkan dengan akidah Islamhingga terbentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Wajar jika output generasi Islam bukanhanya pintar secara akademik melainkan semakin menjadi pribadi yang sholih

Setidaknya 2 tujuan mendasar pendidikan d dalam Islam. Pertama, pendidikan Islam mencetak generasi sesuai dengan visi pencitaan, yaitu beribadah kepada Allah. Allah berfirman,

“Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS. Adz Dzaariat:56)

Ibadah artinya tunduk dan patuh pada semua aturan Allah. Artinya anak didik memang sengaja dibentuk bagaimana mereka menjadi hamba Allah yang tujuannya ibadah dalam bentuk ketaatan total kepadaNya, bukan malah membangkang syariatNya.

Kedua, menjadikan anak didik menjadi Kholifah Fil Ard (Pemimpin di muka bumi). Menjadi pemimpin untuk diri sendir, umat dan negara. Allah berfirman,

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi..." (QS. Al Baqarah: 30)

Dengan begitu dia akan membutuhkan ilmu dunia misalnya dalam bidang saintek (Sains dan teknologi) untuk memahami dan mengelola bumi titipan Allah ini dengan amanah. Penemuan-penemuannya pun ia gunakan bukan untuk memperkaya diri sendiri melainkan untuk kemaslahatan umat. Karena dia menyadari bahwa setiap amal kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Dan, semakin dia pelajari ilmu dunia, maka dia semakin memahami begitu luar biasa Allah sebagai Pencipta dan Pengatur hidup manusia. Sehingga dia semakin taat dengan mengelola ciptaan Allah dengan amanah. 

Negara akan membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan untuk rakyatnya, bukan untuk korporat asing. Individu bertakwa, menjadi pribadi yang amanah mampu memanfaatkan lapangan kerja yang ada. Sistem ini akan mendorong generasi untuk terus berinovasi memajukan negeri dengan keimanan dan ketakwaan.

Output generasi Islam tentu tak bisa didapatkan begitu saja tanpa ada campur tangan negara. Karena negara yang memilki andil dalam menentukan kebijakan termasuk pendidikan. Namun sangat disayangkan  kini beredar berita jika pelajaran Islam akan dihapuskan dalam sistem ini. Lalu generasi kita akan memakai standar apa dalam beramal? Padahal standar baik dan buruk versi manusia hanya akan menimbulkan kekacauan. Allah berfirman,

“...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216)

Jadi Pendidikan di Indonesia Maju, akankah tetap maju jika meninggalkan nilai-nilai luhur dari TuhanNya?

Pengirim: Eriga Agustiningsasi, S.KM, Kota Pasuruan

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA