Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

UMM Kaji Pembelajaran Sastra Indonesia Era Kini

Jumat 01 Nov 2019 17:21 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Dwi Murdaningsih

Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilustrasi

Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilustrasi

Bahasa Indonesia merupakan tali kebudayaan yang melahirkan bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) belum lama ini mengadakan Seminar nasional bertajuk “Implementasi Kajian Transdisipliner Bidang Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya dalam menghadapi Society 5.0”. Kegiatan yang menghadirkan berbagai pemateri ini bertujuan menekankan peranan bahasa Indonesia di masa sekarang dan mendatang.

Baca Juga

Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY),  Suminto A. Sayuti mengatakan, bahasa Indonesia pada dasarnya merupakan tali kebudayaan yang melahirkan bangsa. Hal ini karena semula Indonesia memiliki beratus-ratus bahasa daerah.  Perbedaan itu berhasil dipersatukan oleh satu bahasa.

"Secara kultural bahasa Indonesia adalah bukti keutuhan bangsa ini," kata Suminto dalam keterangan pers yang diterima Republika.co.id, Jumat (1/11).

Ketua Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UMM, Sugiarti melihat bagaimana kecenderungan bahasa saat ini. Menurutnya, bahasa memiliki berbagai tantangan terutama dengan kian majunya teknologi. Perkembangan bahasa, sastra dan pembelajaran sebagai sebuah kajian transdisipliner tentu memiliki kaitan dengan perkembangan era Industry 4.0 serta Society 5.0. 

Saat ini, kata Sugiarti, teknologi masih belum bisa menyelesaikan persoalan manusia. Akan tetapi sangat bermanfaat sebagai sarana pembangun peradaban manusia. Oleh karena itu, dia berharap bangsa tidak melihat sisi teknologi saja.

"Tetapi dari sisi sosial yang berkaitan dengan masyarakat Society 5.0,” kata dia.

Sugiarti menilai diperlukan adanya penggabungan antara teknologi, ilmu dan manusia. Ketiga hal ini bisa dijadikan sebagai solusi dalam menempatkan harkat dan martabat manusia kepada harkat kemanusiaan itu sendiri. Sebab, terdapa pola-pola objektif tertentu yang harus diketahui dalam memahami perubahan di persoalan keilmuan.

Di kesempatan serupa, Wakil Rektor I UMM, Profesor Syamsul Arifin berharap, ada banyak hal yang bisa diserap di era Industri 4.0 dan Society 5.0. "Agar semakin selaras dengan perkembangan zaman, terutama bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA