Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

BPS: Industri Manufaktur Besar dan Sedang Alami Perlambatan

Jumat 01 Nov 2019 12:11 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Industri manufaktur

Industri manufaktur

Foto: Prayogi/Republika
Industri barang logam bukan mesin dan peralatan mengalami pertumbuhan negatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang (IBS) sepanjang kuartal III hanya tumbuh 4,35 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, laju pertumbuhan tersebut terus mengalami penurunan kurun waktu dua tahun terakhir.

Pada kuartal III tahun 2017, IBS mampu tumbuh hingga 5,46 persen. Kemudian mengalami perlambatan menjadi 5,04 persen pada kuartal III 2018. Laju pertumbuhan kuartal III tahun ini merupakan titik yang terendah.

"Perlu disampaikan perekonomian kita tidak mudah. Ekonomi global melemah, masih ada perang dagang, harga komoditas juga masih fluktuatif. Itu akan berpengaruh, meskipun ada juga kendalam di dalam negeri," kata Suhariyanto  dalam Konferensi Pers di Jakarta, Jumat (1/11).

Lebih detail, secara berurutan pada kuartal I dan II 2019, pertumbuhan IBS mencapai 3,62 persen dan 4,35 persen. Adapun tahun 2018 lalu pertumbuhan IBS selama satu tahun penuh sebesar 4,07 persen atau lebih rendah dibanding 2017 sebesar 4,74 persen.

Suhariyanto menyampaikan, jenis industri yang tumbuh negatif yakni industri barang logam bukan mesin dan peralatannya yang turun 22,95 persen. Adapun industri yang tumbuh paling tinggi yakni industri percetakan dan reporduksi media rekaman hingga 19,59 persen.

Industri lainnya yang juga mengalami pertumbuhan negatif yakni industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia, kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer, kemudian industri pengolahan tembakau, industri karet, barang dari karet, dan plastik, serta industri barang galian bukan logam.

Sementara itu, industri yang masih mengalami pertumbuhan positif di antaranya industri makanan, industri kertas dan barang dari kertas, serta industri logam dasar. "Industri yang tumbuh menggembirakan adalah industri makanan dan dia punya kontribusi tinggi sehingga akan berpengaruh terhadap industri manufaktur secara keseluruhan," kata Suhariyanto.

Lebih lanjut, kondisi berbeda dialami oleh industri manufaktur kelas mikro dan kecil (IMK) yang mampu tumbuh positif. Pada kuartal III tahun 2019, BPS mencatat pertumbuhan IMK tembus 6,19 persen. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan pada kuartal III 2018 yang hanya 3,88 persen maupun pada kuartal III 2017 yang sebesar 5,34 persen.

"Untuk IMK pertumbuhannya masih menggembirakan. Dia lebih labil karena industri mikro tenaga kerjanya hanya 1-4 orang dan kecil 5-19 orang sehingga pergerakan indeks produksi lebih fluktuatif dibanding IBS. Berbeda dengan IBS yang tenaga kerjanya lebih dari 100 orang," kata dia.

Secara sektoral, jenis industri yang tumbuh tertinggi adalah industri komputer, barang elekronik, dan optik yang mampu tumbuh 24,36 persen. Sementara industri peralatan listrik anjlok hingga 32,88 persen.

Suhariyanto mengatakan, data-data pertumbuhan indusri manufaktur tersebut akan menjadi salah satu dasar penghitungan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2019.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA