Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Fiat dan Peugeot Resmi Merger

Jumat 01 Nov 2019 11:09 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya

Logo Fiat.

Logo Fiat.

Foto: Ist.
Nilai merger dua produsen otomotif ini mencapai Rp 674,8 triliun

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Fiat Chrysler dan pemilik Peugeot, PSA Group, telah mengumumkan kesepakatan merger sebesar 48 miliar dolar AS (Rp 674,8 triliun). Kesepakatan merger ini akan menciptakan produsen mobil terbesar ketiga di dunia.

"Pemegang saham masing-masing produsen mobil akan memiliki 50 persen dari operasi gabungan," kata perusahaan dalam pernyataan bersama pada Kamis (31/10) waktu setempat seperti dilansir CNN.

Perjanjian yang mengikat ini dapat diselesaikan dalam beberapa minggu ke depan, kata pernyataan itu. Pemegang saham Fiat Chrysler juga akan mendapatkan dividen satu kali khusus senilai 6,1 miliar dolar AS sebagai bagian dari kesepakatan.

Perusahaan gabungan akan berbasis di Belanda, yang merupakan markas Fiat Chrysler saat ini, meskipun akan mempertahankan kantor pusat untuk operasi di Amerika Utara, yakni di dekat Detroit.

Pemilik Fiat, John Elkann, akan menjadi ketua perusahaan gabungan tersebut. Sementara CEO PSA Carlos Tavares akan menjadi CEO di perusahaan gabungan.

Perusahaan gabungan akan memiliki sekitar 410 ribu karyawan dan pendapatan tahunan 190 miliar dolar AS. Fiat Chrysler dan PSA secara gabungan menjual sebanyak 8,7 juta kendaraan pada tahun lalu. Jumlah tersebut melampaui angka penjualan General Motors sebanyak 8,3 juta unit, dan tidak jauh di belakang Volkswagen dan Toyota, yang masing-masing terjual lebih dari 10 juta unit kendaraan.

Kesepakatan merger ini terjadi di tengah perlambatan penjualan mobil global, yang dapat memburuk karena konsisi ekonomi di seluruh dunia melambat atau bahkan jatuh ke dalam resesi. Pada saat yang sama, produsen mobil berusaha keras untuk berinvestasi dalam teknologi listrik dan hibrida yang diperlukan untuk memenuhi target emisi baru yang ketat di China dan Eropa.

Kendaraan otonom di masa depan juga menghadirkan ancaman bagi model bisnis industri tradisional. Jumlah besar modal yang dibutuhkan untuk memenuhi tantangan baru ini telah memaksa beberapa produsen mobil untuk menemukan mitra dan mengubah yang lain menjadi target akuisisi.

Jessica Caldwell, direktur eksekutif analisis industri Edmunds, mengatakan rencana merger Fiat Chrysler dan PSA bukan benar-benar tentang produk atau memperluas ke pasar baru. Sebaliknya, ini tentang pendanaan penelitian ke kendaraan masa depan.

"Masa depan mobil listrik dan otonom yang ditunggu semua orang tidak mungkin dilakukan tanpa pembuat mobil menggabungkan dan membentuk aliansi strategis untuk berbagi biaya penelitian dan pengembangan," kata Caldwell.

Menurutnya ini adalah langkah cerdas oleh Fiat Chrysler dan PSA untuk memastikan perusahaan mereka tetap layak dan relevan seiring perkembangan industri.

Produsen mobil dengan kebutuhan paling mendesak untuk bergabung dalam kasus ini adalah PSA, yang telah tertinggal dalam pengembangan mobil emisi bersih. Produksi kendaraan listrik PSA kurang dari 0,3 persen dari keseluruhan penjualannya. Sementara Fiat Chrysler juga masih di bawah pesaing yang lebih besar dalam mengembangkan kendaraan listrik.

Bahkan pemain terbesar di industri membuat perubahan, Volkswagen dan Ford, bekerja bersama untuk mengembangkan kendaraan listrik dan self-driving. Sementara pabrikan mobil Jerman BMW dan Daimler telah membentuk usaha patungan yang akan mengembangkan teknologi kendaraan tanpa pengemudi. Honda telah berinvestasi di unit mobil self-driving General Motors.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA