Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Mirisnya Gaul Muda, Maksiat Dianggap Biasa

Kamis 31 Oct 2019 14:49 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Kehamilan di usia Remaja (Ilustrasi)

Kehamilan di usia Remaja (Ilustrasi)

Pernyataan hamil di luar nikah atau maksiat hal biasa berbahaya diucap figur publik

Pergaulan dahulu dengan sekarang memang berbeda. Jika dahulu terlihat malu-malu, kini tak perlu rasa malu. Sebuah video yang diunggah oleh seorang rapper ternama tanah air. Mengisahkan kebahagiannya ketika menjawab pertanyaan dari netizen. Yang perlu disoroti adalah kabar kehamilan istrinya, yang diakui memang  telah hamil sebelum menikah. 

Dalam video itu ia berpesan bagi para anak muda yang telah terlanjur hamil, maka harus berani bertanggung jawab. Tidak perlu diaborsi. Itu adalah karunia yang patut disyukuri, karena masih banyak pasangan menikah di luar sana yang susah dapat anak.

Pernyataan seperti ini bisa berakibat fatal bagi para remaja. Jika diamini bisa saja remaja akan meniru gaya hidupnya. Hamil di luar nikah, menikmati yang belum halal baginya. Apalagi si doi adalah publik figur. Ia adalah panutan bagi para penggemarnya. 

Kita perlu mencermati, ada sebuah tradisi yang salah di sini. Bangga dan bahagia setelah melakukan kemaksiatan. Tindakan seperti ini telah memperlihatkan bahwa dirinya telah terpengaruh budaya bebas. Budaya liberal, yang mengagung-agungkan kebebasan. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada ikatan agama dalam kebebasan.

Liberalisme ini sangat berbahaya bagi kita. Ia adalah pemahaman tak berTuhan. Berjalan semaunya sendiri. Bahkan akan menimbulkan kerusakan. Bayangkan saja, jika banyak anak-anak yang mengikuti gaya ini, berapa banyak dari mereka yang masa depannya rusak?

Akibat liberalisme ini masyarakat pun mulai apatis. Mereka menganggap biasa. Tak mempermasalahkan hamil duluan. Untuk menyelesaikan tinggal dinikahkan. Apakah masalah ini cukup di sini?

Teringat dua orang di zaman Rasulullah yang berzina. Meskipun tak ada saksi selain mereka, keduanya telah mengakui kesalahan. Hingga akhirnya rajam dikenakan atas keduanya. Mereka ikhlas, bertobat dan Allah telah mengabarkan mereka masuk surga. Ini adalah generasi zaman dahulu, yang senantiasa memunculkan keimanan dalam dirinya. Jadi, ketika bersalah, mereka ikhlas menerima hukumannya.

Alangkah indahnya jika keimanan ada di dalam dada. Setiap orang akan takut bermaksiat. Setiap lingkungan akan menjaga masyarakatnya. Ditambah lagi jika pemimpinnya sadar agama. Mereka akan memikirkan bagaimana membentuk pribadi yang kuat imannya. Sehingga kerusakan seperti ini tak akan terjadi lagi.

Hanya Islam yang mampu menyelesaikan masalah ini. Islam tidak akan membuat orang bangga akan dosa-dosanya. Alquran mengabarkan surga dan neraka bagi hamba-hambanya. Sehingga orang yang beriman akan senantiasa tertanam dalam dirinya sifat qouf (takut) kepada Allah. Yakin Allah melihat atas segala aktifitas kita. Selain itu keimanan juga menumbuhkan sifat roja' (berharap) kepada Allah. Mengharapkan pertolonganNya dan ampunanNya. 

Oleh karena itu, marilah kita kembali pada jalan Ilahi. Jalan Islam. Jalan yang suci. Jangan sampai kita mengekor pada suri tauladan yang salah. Mari kita jadikan Islam sebagai dasar memilih idola dan panutan. Karena Islam telah berjanji "Barang siapa mengikuti Alquran dan Assunnah maka ia akan selamat". 

Sebagai negeri yang mayoritas muslim, seharusnya menyadari betapa bahayanya jika remaja-remaja di sini mengidolakan artis yang bermaksiat. Sudah sepantasnya kita memberikan edukasi bagaimana memilih idola yang baik. Idola yang jelas tidak hanya membuat kita sukses dunia, tapi juga akhirat.

Pertama, mencari idola itu harus yakin bahwa yang di idolakan akan membawanya ke Surga. Bukan justru ke Neraka. Sebagaimana sabda Rosulullah Saw,

Dari Ibnu Mas'ud ia berkata: "Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Rasul mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?" Rasulullah bersabda: "Seorang itu beserta orang yang dicintainya." (HR. Bukhori Muslim)

Kedua, idola adalah panutan kita. Jadi sebisa mungkin ketika memilih idola yang lebih banyak ilmunya. Terutama Ilmu untuk bekal di akhirat. Jika kita punya idola yang demikian, InsyaAllah kita akan mengikutinya dengan menambah ilmu kita. Maka kita pun akan ikut menjadi baik. 

Ketiga, pilihlah idola yang jelas dijanji Allah oleh Surga. Yaitu mereka yang telah tiada dalam kondisi beriman kepada Allah. Karena mereka tidak mungkin akan membelot dari keimanan.

Keempat, seseorang yang patut diidolakan hanyalah Rosulullah Saw. Sebagaimana firman Allah SWT, 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Maka bijak dalam memilih idola itu penting. Jangan sampai kita termasuk golongan orang-orang yang merugi. Karena idola kita justru mendekatkan pada siksa Neraka. Wallahu a'lam bishowab.

Pengirim: Henyk Nur Widaryanti (Pemerhati Remaja)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA