Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Membaca Arah Masa Depan Pendidikan Indonesia

Rabu 30 Oct 2019 18:13 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim

Foto: AP/Dita Alangkara
Arah pendidikan Indonesia harus berfokus pada membangun tradisi ilmu dan belajar

Pada Kolom Opini Republika (Kamis, 24 Oktober 2019) menurunkan tulisan Bimo Joga Sasongko, lulusan North Corolina State University, dengan judul yang cukup mentereng “Transformasi Diknas”. Di antara poin yang menarik yang dipaparkan dalam opini tersebut yaitu tentang alasan dan harapan penunjukan Nadiem sebagai orang nomor satu yang menangani masalah pendidikan di Indonesia.

“Tentu ada alasan strategis Presiden Joko Widodo menunjuk Nadiem yang merupakan salah satu sosok generasi milenial yang kini menangani masalah pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi. Salah satu pertimbangan presiden mengangkat Nadiem adalah pentingnya melakukan transformasi pendidikan nasional (diknas) agar tidak usang dan tertinggal zaman. Serta mampu mengembangkan talenta- talenta muda sebagai SDM bangsa berdaya saing global,” tulis Joga. 

Dalam bagian yang lain dalam opini tersebut dikemukakan bahwa,"Sejak duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi, seharusnya seseorang sudah diberikan bekal pendalaman ragam profesi secara intens. Dalam persaingan global yang sangat sengit, sekolah dituntut untuk mengenalkan sikap profesonalisme dan ragam profesi.”  

Ketika membaca tulisan tersebut penulis mencium aroma penyambutan dan harapan yang membuncah atas terpilihnya Nadiem Makarim sebagai mendikbud yang baru dalam kabinet Indonesia maju periode 2019-2024. Benarkah inti masalah utama pendidikan di indonesia terpusat pada ketertinggalan dan ketidaksiapan dalam menghadapi persaingan global semata?

Pada Jumat 25 Oktober 2019 Kolom opini Republika kembali menurunkan tulisan tentang terpilihnya Nadiem Makarim sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan, tulisan tersebut diberi judul yang menggelitik; “Harap Cemas Pendidikan Kita” oleh Dr Adian Husaini, cendekiawan dan praktisi pendidikan Islam. Dr Adian menyoroti aspek perubahan mendasar yang diharapkan terjadi pada arah kebijakan pendidikan di tangan menteri Nadiem, yaitu soal pentingnya fondasi akhlak dan adab pada setiap jenjang pendidikan.

”Jangan sampai dunia pendidikan di indonesia melahirkan manusia yang pintar cari makan, tetapi jahat, serakah, dan tidak peduli pada sesama insan. Apalagi, melahirkan manusia yang tidak professional, tidak berguna, buruk pula akhlaknya,” tulis Adian.

Dalam Falsafah Pendidikan Islam Prof Dr Omar Mohammad Al Toumy Al Syaibani, mengemukakan tentang Konsep Tujuan pendidikan yaitu, “Perubahan yang diingini atau dicapai yang diusahakan oleh proses pendidikan baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakatnya dan pada alam sekitar dimana individu itu hidup, atau pada proses pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi  dan proporsi diantara profesi dalam suatu masyarakat”. 

Secara defenitif tujuan-tujuan pendidikan dalam Islam mengarah kepada kejelasan perubahan-perubahan yang dihasilkan dari proses pendidikan, adapun perubahan tersebut menyasar pada bidang-bidang yang asasi dalam kehidupan yaitu, Perubahan individu yang terjadi pada perubahan tingkah laku dan kepribadian yang mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat. 

Tujuan perubahan sosial berkaitan dengan kehidupan masyarakat secara keseluruhan dalam hal pertumbuhan, kesejahteraan dan kemajuan yang diinginkan. Tujuan perubahan professional berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni dan professi sebagai aktivitas yang positif di masyarakat. Begitulah arah pendidikan yang seharusnya, holistik dan intergratif mencakup semua aspek kebutuhan dasar manusia.

Menurut Prof Syed Muhammad Naquib Al Attas, Pendiri ISTAC Malaysia, Hakikat dari tujuan pendidikan adalah mencetak good man, yaitu manusia yang beradab. Sehingga masalah mendasar yang harus dirumuskan dalam tujuan pendidikan adalah mengembalikan adab yang hilang dalam sistem pendidikan kehidupan ummat.

Lost of Adab sebagai loss of discipline, discipline of body, mind and soul. Manusia yang kehilangan adab yaitu kehilangan arah dan tujuan asasi serta kehilangan keteraturan dalam membangun jasmani, rohani dan pemikiran.

Sudah barang tentu, kita tidak ingin pendidikan di indonesia diarahkan pada tujuan-tujuan jangka pendek yang hanya memperhatikan urusan yang bersifat profan saja, benar pendidikan perlu melek kemajuan teknologi, Akan tetapi jangan lupa ilmu dan pengetahuan yang membangun hakikat dan jati diri sebuah bangsa yang besar tidak boleh dilupakan, sehingga anggapan bangsa kita sekarang laksana raksasa yang terlupakan (forgetfull giant), sehingga tidak mampu mengidentifikasi potensi dan kekuatan dirinya adalah hal yang keliru. 

Adanya link and match atau kesesuaian antara konten pendidikan dan tantangan praktis yang dihadapi di dunia pekerjaan perlu kebijakan yang berkesinambungan dan terintegrasi dalam sebuah road map kebijakan besar membangun perubahan bangsa dan negara kearah yang lebih positif dan berdaya saing tinggi, tapi kesejatian dalam membangun tradisi ilmu dan belajar yang menjadi ciri sebuah bangsa yang besar harus terus digaungkan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta dilaksanakan oleh para pejuang pendidikan, di rumah, sekolah, madrasah, pondok pesantren, dan perguruan tinggi.

Pengirim: Maizar Madsuri, Praktisi dan Pemerhati Kebijakan Pendidikan Cimanggu Permai Bogor

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA