Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Generasi Milenial, Bersatu Kita Maju

Rabu 30 Oct 2019 16:57 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Komunitas Young Penting Indonesia menggelar acara Mimbar Harapan Milenial di Taman Spot Budaya, Dukuh Atas, Jakarta, Sabtu (19/10/2019).

Komunitas Young Penting Indonesia menggelar acara Mimbar Harapan Milenial di Taman Spot Budaya, Dukuh Atas, Jakarta, Sabtu (19/10/2019).

Foto: Republika
Kebijakan pemerintah diharapkan dorong kualitas generasi milienial untuk lebih maju

Beberapa waktu yang lalu kita menyaksikan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia di Gedung MPR. Sebelumnya, di tempat yang sama, dilantik juga sebanyak 575 anggota DPR periode 2019-2024.

Baca Juga

Ada yang menarik dari pelantikan anggota DPR ini. Sekitar 52 orang anggota legislatif berasal dari generasi muda di bawah usia 40 tahun. Termuda, Hillary Brigitta Lasut berumur 23 tahun, dinobatkan menjadi anggota legislatif termuda. Bila dibandingkan dengan  lima tahun sebelumnya, anggota DPR termuda periode 2014-2019 lalu berusia 26 tahun.

Posisi generasi milenial di kancah politik nasional mulai diperhitungkan. Terbukti dengan cukup tingginya partisipasi generasi ini pada pesta demokrasi Pemilu 2019 lalu. Sekitar 80 juta dari 185 juta pemilih atau sekitar 35-40 persen merupakan generasi milenial. Ini menggambarkan generasi milenial memberi pengaruh sangat besar terhadap warna perpolitikan dan pemerintahan Indonesia.

Siapa sih generasi milenial itu? Dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Profil Generasi Milenial Indonesia menjelaskan teori William Strauss dan Neil dalam bukunya yang berjudul Millenial Rising: The Next Great Generation (2000). Sebagai gambaran singkat, Generasi Milenial atau Generasi Y adalah kelompok manusia yang lahir antara tahun 1980an hingga 2000. Mereka disebut sebagai generasi yang lahir di jaman keajaiban teknologi dan internet telah lahir. 

Sebelum generasi milenial ada Generasi X yang menurut para peneliti lahir tahun 1960-1980. Mereka lahir dari Generasi Baby Boom yang lahir pada rentang tahun 1946-1960 setelah Perang Dunia Kedua. Disamping generasi milenial, ada generasi setelahnya yaitu Generasi Z yang lahir pada rentang tahun 2001 sampai 2010. Generasi ini merupakan peralihan dari Generasi Y pada saat teknologi sedang berkembang pesat. 

BPS menyebutkan bahwa tahun 2018 jumlah penduduk dengan rentang usia 15-39 tahun mencapai 39,96 persen dari jumlah penduduk keseluruhan. Ini berarti sumbangan generasi milenial dalam membentuk struktur jumlah penduduk usia produktif cukup tinggi, dimana dari 67,59 persen penduduk usia produktif,  sekitar 59,93 persennya adalah generasi milenial. Kondisi ini menunjukkan adanya bonus demografi. 

Bonus demografi merupakan fenomena langka karena hanya akan terjadi satu kali ketika proporsi penduduk usia produktif berada lebih dari dua pertiga jumlah penduduk keseluruhan. Indonesia memasuki era bonus demografi yang terjadi akibat berubahnya struktur umur penduduk, digambarkan dengan menurunnya rasio perbandingan antara jumlah penduduk nonproduktif (umur kurang dari 15 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap jumlah penduduk produktif (usia 15-64 tahun). Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi pada tahun 2020-2035, dan puncaknya di tahun 2028-2030.

Generasi milenial sebagai penduduk terbesar, memiliki peran dominan dalam era bonus demografi. Generasi inilah yang akan menentukan arah dan roda pembagunan. Generasi milenial yang unggul dan memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan dunia luar merupakan aset bangsa yang mampu membawa bangsa Indonesia menuju arah pembangunan yang lebih maju dan dinamis.

Seyogyanya fenomena ini dijadikan peluang bagi bangsa Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia usia produktif yang berlimpah dalam menghadapi pasar bebas tenaga kerja.

BPS merilis angka angkatan kerja bulan Februari 2019 sebanyak 136,18 juta orang, naik 2,24 juta dibanding Februari 2018. Sejalan dengan itu, sebanyak 129,36 juta orang adalah penduduk bekerja dan sebanyak 6,82 juta menganggur. Dibandingkan Februari 2019, jumlah penduduk bekerja bertambah 2,29 juta sedangkan pengangguran berkurang 50 ribu orang.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat sebesar 0,12 persen menjadi 69,32 persen. Nilai TPAK ini merupakan indikator adanya potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja yang meningkat.

Selain itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada bulan Februari 2019 turun menjadi 5,01 persen pada bulan Februari 2019. Nilai TPT merupakan indikator untuk mengukur tingkat penawaran kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja. Dilihat dari tingkat pendidikannya, penawaran kerja tidak terserap paling banyak pada tingkat pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) (sumber:bps.go.id)

Indonesia menghadapi tantangan terkait ketenagakerjaan tersebut. Pertama, masih tingginya tenaga kerja dengan pendidikan menengah ke bawah yang berpengaruh terhadap produktivitas dan daya saing tenaga kerja yang relatif rendah. Kedua, pendidikan dan keterampilan yang dimiliki tenaga kerja tidak sesuai dengan kebutuhan pekerja sehingga menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja berkualitas.

Jika ditinjau dari bidang pendidikan, BPS merilis angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2018 sebesar 71,39 meningkat 0,58 poin dibandingkan tahun 2017. Salah satu dimensi pembentuk IPM adalah Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). HLS 2018 mencapai 12,91 tahun, artinya bahwa anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk menamatkan pendidikan hingga lulus SMA atau D1. 

Sementara itu, RLS 2018 sebesar 8,17 tahun, artinya rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas mencapai 8,17 tahun meningkat 0,07 tahun dibandingkan tahun 2017. Meningkatkan HLS dan RLS memberi indikasi baik bahwa semakin banyak dan semakin lama anak-anak yang bersekolah. Pertumbuhan yang positif ini merupakan modal penting dalam membangun kualitas manusia Indonesia yang lebih baik.

Dengan dilantiknya Kabinet Indonesia Maju Rabu lalu (23/10), diharapkan lahir kebijakan Pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas pemuda Indonesia, khususnya kaum milenial. Susunan menteri di Kabinet menjadi cerminan bahwa anak muda juga dapat menjadi menteri. Ada dua orang menteri dan satu orang wakil menteri yang mewakili kaum milenial di susunan kabinet saat ini. 

Keterwakilan generasi milenial baik di legislatif maupun eksekutif diharapkan mampu mewakili pikiran dan ide-ide generasinya yang dapat melahirkan pemikiran dan kebijakan untuk meningkatkan dan menciptakan generasi muda berkualitas dan berkarakter, demi terciptanya penerus bangsa untuk Indonesia maju yaitu pemuda yang memiliki karakter, kapasitas,  kemampuan inovasi, kreativitas tinggi, mandiri, inspiratif serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan dunia.

Semoga peringatan Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober ini dapat menjadi titik momentum kita bersama generasi milenial harapan bangsa untuk dapat mempersiapkan diri menghadapi globalisasi dan tantangan ke depan. 

Wahai Generasi Muda Indonesia, Selamat Hari Sumpah Pemuda Ke-91. “Bersatu kita maju.” 

Pengirim: Susanti, Statistisi BPS Kota Bandung

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA