Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Menegaskan Identitas Gender

Rabu 30 Oct 2019 12:16 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ilustrasi Ibu bersama anak laki-laki dan perempuan.

Ilustrasi Ibu bersama anak laki-laki dan perempuan.

Foto: Republika/ Wihdan
Orang tua diminta tidak mengabaikan soal pertanyaan identitas gender dari anak

Sesungguhnya manusia itu diciptakan terdiri dari dua jenis kelamin atau gender yakni laki–laki dan perempuan. Tentunya dalam penciptaan kedua jenis kelamin ini melekat karakternya masing–masing. Manusia hanya terima beres. Tidak ada andil manusia di dalam penentuan jenis kelamin ini. 

Baca Juga

Persoalan sosial yang lantas muncul adalah bagaimana penegasan identitas gender itu pada diri seseorang. Pendidikan dan lingkungan sosial turut serta berperan dalam upaya penegasan tersebut. Pada jenis kelamin laki – laki, karakter yang melekat padanya di antaranya adalah maskulin, tegas, tanggung jawab dan semisalnya.

Perempuan itu dengan karakter yang melekat padanya di antaranya adalah feminim, lemah lembut, penuh kasih, perasa dan semisalnya. Di sinilah letak urgensi dari upaya perlunya menegaskan kembali identitas gender, supaya pemberian hak dan kewajiban masing – masing gender bisa tepat dan proporsional. 

Pada tahapan awal, sejak dini anak harus sudah dimulai untuk diberikan penegasan akan identitas gendernya. Ketika masih berusia kurang dari setahun, anak perempuan sudah diberikan tindik anting–anting di telinganya. Secara tidak langsung, orang tua dalam hal ini, sudah memberikan ciri identitas yang jelas pada anak. Dengan demikian secara psikologis anak diajak untuk menyatakan bahwa dirinya itu laki–laki atau perempuan. 

Sementara itu, orang tua seringkali menghadapi pertanyaan dari si kakak tentang perbedaan alat kelamin antara dirinya dengan adiknya. Momen ini muncul ketika si kakak melihat adiknya dimandikan oleh Ibu di bak mandi bayi. 

Orang tua harus segera memberikan pengertian kepada si kakak. Jangan pernah mengabaikan tentang apapun dari pertanyaan anak. Apalagi di dalam masalah gender. Dengan demikian anak bisa belajar tentang gender pada manusia. Apa yang dilihatnya, didengarnya, dan dirasakannya menjadi sumber belajarnya. 

Kedua, Membedakan dengan tegas pakaian yang dikenakan oleh laki–laki dan perempuan. Laki–laki memakai pakaian khusus laki–laki. Sedangkan perempuan memakai pakaian yang khusus untuk perempuan. Standar pembedaan pakaian laki-laki dan perempuan adalah urf atau kepatutan yang ada dalam sebuah komunitas masyarakat. 

Ketiga, Membedakan jenis permainan di antara laki–laki dan perempuan. Permainan seperti sepak bola, perang–perangan dan lainnya, tentunya akan cocok dengan karakter seorang laki–laki. Adapun permainan seperti masak – masakan dan lainnya, tentunya akan cocok dengan karakter seorang perempuan. Pemilihan jenis permainan akan sangat berpengaruh besar pada aspek kejiwaan seseorang. 

Sebagai contoh, permainan sepak bola jelas membutuhkan kekuatan, kelincahan dan ketepatan. Hal ini akan linear dengan aspek kemaskulinan seorang laki – laki. Dengan demikian, seorang anak laki – laki akan dengan tepat memvisualisasikan dirinya dengan tanggung jawab. Demikian halnya, bagi anak perempuan. Tatkala permainan yang dipilih itu linear dengan kefeminimannya, ia akan tumbuh dengan tanggung jawabnya sebagai perempuan.

Keempat, Melakukan pemisahan tempat tidur antara laki – laki dan perempuan. Ketika si anak sudah menginjak usia sekolah, tentu sejak dini harus sudah dikenalkan terkait pemisahan tempat tidur di antara laki – laki dan perempuan. Bahwa pemisahan tempat tidur laki  laki dan perempuan dilakukan demi menjaga kemuliaan kemanusiaan mereka. Hal demikian sebagai upaya preventif dari terjadinya hal – hal yang mengandung keburukan yang bisa terjadi di antara kedua jenis kelamin tersebut. 

Kelima, Melibatkan anak – anak di dalam kegiatan kedua orang tuanya. Untuk anak laki – laki diajak ayah ke tempat kerjanya. Ayah sambil menunjukkan berbagai perlengkapan kerja yang ada di tempat kerjanya, dan anak diminta juga untuk melihat bagaimana ayah bekerja. Untuk anak perempuan, diajak oleh Ibu untuk melakukan kegiatan – kegiatan di rumah, seperti menyapu, mencuci pakaian, dan memasak. Dengan melibatkan mereka di dalam kegiatan harian kedua orang tuanya akan tertanam akan kejelasan orientasi kehidupan dan pekerjaannya. 

Keenam, Di saat anak sudah bisa diajak memikirkan hal hal terkait dirinya seperti sekolahnya, pelajarannya, prestasinya, dan teman–teman pergaulannya, maka orang tua bisa mengambil peran sebagai sosok seorang guru dan sekaligus sebagai sosok sahabatnya. 

Orang tua perlu untuk memberikan penjelasan akan hak–hak dan kewajiban–kewajiban sosial di antara laki –laki dan perempuan. Orang tua bisa mengajak anak diskusi dan berpendapat dalam hal ini. Sedangkan pada lain waktu, orang tua bisa menjadi teman curhat dan pendamping setia di masa tumbuh kembang anak. 

Bekerja keras, mendidik keluarga yakni anak istrinya, dan menjadi pemimpin adalah tanggung jawab yang ada di pundak laki–laki. Oleh karenanya, keluarganya harus taat kepada laki – laki sebagai pemimpin di dalam keluarga. Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh anak dan mendidiknya merupakan tanggung jawab yang ada di pundak perempuan. Oleh karena itu, hak sosial yang layak diterimanya adalah rasa bakti anak kepadanya, mendapat kasih sayang dan nafkah dari suaminya. Inilah fungsi kemaskulinan dan kefeminiman yang diletakkan Allah SWT sebagai kodrat kedua jenis kelamin tersebut. 

Dalam tataran yang lebih luas yakni di masyarakat, penegasan gender ini akan menimbulkan keteraturan dan kerjasama yang baik di antara laki – laki dan perempuan . Perempuan menjadi mulia di masyarakat. Sedangkan laki – lakinya berfungsi layaknya pengayom dan penjaga kehormatannya. 

Demikianlah beberapa hal yang bisa dilakukan dalam menegaskan identitas gender antara laki –laki dan perempuan. Pengasan gender ini menjadi hal yang sangat mendasar dalam membangun benteng kokoh dari serbuan penyakit LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). 

Kalau sudah begini, masihkah LGBT dijadikan sebagai pelarian ketika identitas gender itu sudah mulai kabur?? Syukuri saja apa yang kita miliki, anda laki- laki atau anda perempuan, niscaya hidup itu menyenangkan.

Pengirim: Ainul Mizan, Guru asal Kanjuruhan Tlogomas, Kota Malang.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA