Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Refleksi Hari Pangan Sedunia, Kelaparan Masih Ancaman Nyata

Selasa 29 Oct 2019 16:54 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Anak-anak di Yaman menderita gizi buruk dan kelaparan karena blokade yang dilakukan koalisi Arab Saudi.

Anak-anak di Yaman menderita gizi buruk dan kelaparan karena blokade yang dilakukan koalisi Arab Saudi.

Foto: Ali Ashwal/Save the Children
Kelaparan dan kemiskinan yang tinggi membuat masyarakat tak bisa akses produk sehat

Hari Pangan Sedunia atau World Food Day yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober, pada tahun 2019 menyoroti perlunya upaya yang lebih keras untuk mengakhiri kelaparan dan bentuk-bentuk kekurangan gizi lainnya.

Dengan tema global, "Tindakan kita adalah masa depan kita. Pola Pangan sehat, untuk #Zerohunger 2030", semua pihak diminta ikut memastikan keamanan pangan dan pola pangan sehat tersedia untuk semua orang. Sedangkan tema nasional di Indonesia sendiri mengusung, “Teknologi Industri Pertanian dan Pangan Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045.”

Jumlah penduduk bumi yang semakin meningkat dengan semakin berkurangnya kualitas alam membuat masalah ketersediaan pangan secara global masih menjadi kendala. Beberapa negara di dunia mengalami krisis berkepanjangan yang akhirnya berimbas pada ketidakmampuan mereka menyediakan pangan yang memadai bagi penduduknya. Bahkan ada negara yang penduduknya dilanda kelaparan yang sangat parah, seperti Republik Afrika Tengah, Chad, Yaman, Sierra Leone dan Haiti. 

Indonesia saja yang selama ini diklaim sebagai negara agraris, belum bisa mencapai swasembada pangan. Meskipun potensi untuk membangun ketahanan pangan sangat besar. Impor bahan pangan yang selama ini deras masuk ke negeri ini telah memarginalkan produk lokal dan merugikan petani kita. Angka kemiskinan yang tergolong tinggi membuat masyarakat tidak sepenuhnya bisa mengakses produk pangan sehat, apalagi pola pangan sehat.

Kemiskinan dan kelaparan memang menjadi masalah yang berjalan beriringan. Ketika ingin menyelesaikan masalah kelaparan, maka tentu harus diselesaikan dulu pemicu kemiskinan.

Faktanya, banyak negara yang memiliki kekayaan alam melimpah tapi rakyatnya jauh dari kata sejahtera, seperti Indonesia. Mengapa terjadi? Jelas karena negara salah kelola. Kekayaan alam yang terkategori kepemilikan umum harusnya dikelola oleh negara dan hasilnya untuk membiayai pembangunan dan mengurusi rakyat.

Sistem kapitalisme yang mencengkeram dunia saat ini telah membawa para korporat berkuasa atas kekayaaan alam di negara-negara berkembang atau negara dunia ketiga. Membuat negeri-negeri ini miskin tak berdaya.

Liberalisasi ekonomi hanya memberi peluang bagi pihak yang bermodal. Kemiskinan sistemis akan terus berlangsung. Sehingga slogan mencapai ‘tanpa kelaparan’ atau zero hunger hanya akan jadi jargon tanpa realita ketika sistem kapitalisme masih diterapkan.

Pengirim: Ummu Athiyah, Makassar

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA