Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Sejarah Diplomasi Maroko di Inggris

Selasa 29 Oct 2019 11:21 WIB

Red: Agung Sasongko

Bagian dalam Museum Dar Si Said, Maroko.

Bagian dalam Museum Dar Si Said, Maroko.

Foto: Tangkapan Layar
Hubungan diplomasi Inggris dan Maroko yang sudah dimulai pada abad ke-16,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Saling mengunjungi atau dalam ajaran Islam dikenal sebagai silaturahim adalah tips untuk menjaga kelanggengan hubungan. Hal yang sama berlaku juga pada hubungan diplomasi negara. Para duta besar memiliki tugas menjaga hubungan baik tersebut. Selain, tentu saja, negosiasi politik dan perjanjian perdagangan. 

Hal ini diterapkan pada hubungan diplomasi Inggris dan Maroko yang sudah dimulai pada abad ke-16, hubungan di antara dua negara dari dua peradaban, Islam dan Eropa, yang sedang dalam masa konfrontasi panjang semenjak perang salib pertama di abad ke-10. 

Hubungan baik di Maroko ataupun di daratan Arabia dan dunia Islam pada umumnya tidak diragukan lagi, bisa dirangsang dengan kontak langsung. Hal ini dilakukan Duta Besar Maroko untuk Inggris, Muhammad Ibn Haddu, atau dikenal dengan nama Ben Haddu atau Ben Hadou. Dia kerap menunggang kuda yang indah dan beramah-tamah dengan publik Inggris. 

Baca Juga

Ben Haddu menggunakan kesempatan sebagai duta besar untuk mengunjungi banyak tempat. Ia mengunjungi Royal Society di London yang berdiri pada 1660. Pada 31 Mei 1682, tanda tangan Ben Haddu diabadikan pada daftar tamu Royal Society. Dia kemungkinan telah bertemu salah satu anggota pendirinya, Sir Christopher Wren. 

Ben Haddu juga memberi hadiah kepada para pekerja di lokasi konstruksi katedral St Paul sebesar 15 poundsterling. Nilai ini setara dengan tiga ribu dolar AS saat ini. Langkah diplomatik Ben Haddu ini didukung langsung oleh Sultan Maroko, Moulay Ismail, yang tertarik pada arsitektur dan sedang membangun Kota Meknes. 

Perjalanan di luar London membawa Ben Haddu ke kota yang terkenal dengan perguruan tingginya, yaitu Universitas Oxford dan Universitas Cambridge. Dia juga mengunjungi pusat peternakan dan arena balap kuda, Newmarket. Kunjungan ini dinilai berharga karena mungkin bisa diaplikasikan di Afrika bagian utara. Peternakan dan arena balap kuda tentu akan menimbulkan kekaguman tersendiri. 

Ben Haddu juga menghadiri berbagai pesta yang digelar kalangan bangsawan dan akademisi. Salah satunya pesta yang digelar untuk Ben Haddu sendiri yang diadakan wakil rektor Cambridge dan didanai pedagang Thomas Adams. Hal ini membawa dampak besar pada masyarakat umum, kaum bangsawan, dan dunia aka demis. 

Ben Haddu juga rutin mengunjungi pertunjukan yang diadakan di teater. Walaupun dia kurang suka pada pertunjukan. Sebaliknya, Duta Besar Maroko Abdul Qadir Perez yang datang pada tahun 1724 lebih menunjukkan minat pada drama ketimbang politik. Padahal, diplomat keturunan Spanyol Islam itu merupakan seorang perwira angkatan laut Maroko. 

Ben Haddu pernah menonton ‘’The Ingratitude of the Commonwealth’’ yang merupakan versi drama musikal ‘’’Coriolanus’’. Beberapa hari kemudian, ia sangat senang menonton pertunjukan ‘’The Tempest’’, ‘’The Bloody Brother’’, dan ‘’Macbeth.’’ Tidak jelas apakah dia juga melihat pertunjukan ‘’The Empress of Morocco,’’ drama Timur Tengah yang sukses di kancah internasional.

 

sumber : Mozaik Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA