Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Tak Cukup Bersumpah, Pemuda Wajib Berperan

Selasa 29 Oct 2019 10:28 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Pasukan Oengibar Bendera (Paskibra) saat upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Lapangan Silang Monas, Jakarata, Senin (28/10/2019).

Pasukan Oengibar Bendera (Paskibra) saat upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Lapangan Silang Monas, Jakarata, Senin (28/10/2019).

Foto: Republika
Pemuda berperan sebagai generasi penerus dan tonggak peradaban bangsa

Oktober adalah bulannya pemuda. Bulan saat para  anak muda membuktikan peran besarnya. 1928 silam, sekumpulan anak muda bersumpah atas tanah air, bangsa, dan bahasa yang mampu mempersatukan pemuda dari berbagai daerah. Ikrar tersebut juga meningkatkan semangat juang pemuda untuk melawan dan menghadapi para penjajah negeri. Inilah salah satu ‘bibit’ lahirnya bangsa Indonesia.

Hingga kini, tak ada yang meragukan peran pemuda dalam kemerdekaan Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan masa dan sarana, pemuda tak lagi mengambil  peran itu.

Peran sebagai generasi penerus dan tonggak peradaban sebuah bangsa. Bagaikan generator, seorang pemuda dapat bergerak gesit yang menggerakkan elemen lain sehingga dapat berjalan dengan baik. Energik, optimis, dan ideologis adalah identitas yang harus dimiliki oleh pemuda.

Namun, gerakan pemuda cenderung masih bersifat seremonial minim aksi. Pemuda disibukkan dengan kegiatan formil tanpa eksekusi.

Misalnya setiap tanggal 17 Agustus pemuda selalu ikut perhelatan kemerdekaan, namun dihari-hari yang lain, tidak mencari cara dan berjuang agar Indonesia benar-benar merasakan kemerdekaan. Padahal negeri ini masih dihadapkan dengan masalah pelik kehidupan, yang seharusnya pemuda dapat memberikan solusi hakiki.

Berkaca dari pemuda-pemuda hebat yang tak hanya berikrar namun langsung memberikan aksi. seperti Imam Syafi’i  usia 15 tahun telah menjadi mufti, Umar bin Abdul Aziz usia 22 tahun telah menjadi Gubernur Madinah, dan begitu juga Muhammad Alfatih berhasil menaklukkan benteng konstantinopel saat berusia 24 tahun.

Jika dipadankan, mereka mengukir sejarah dengan tinta emas saat seusia kita. Telah memberi peran besar terhadap peradaban yang berdiri sekitar 1300 tahun dengan luas wilayah hampir 2/3 dunia, mulai dari Timur Tengah, Spanyol, bahkan Afrika Utara.

Peradaban akan jauh lebih mudah diwujudkan bila pemuda mengambil perannya, yakni berfikir dan bersikap kritis, pembaharu moralitas, dan penyebar kebaikan. Peradaban yang mensejahterakan nan gemilang, diwariskan oleh Rasulullah saw dengan Islam sebagai  asasnya. Tentu, pemuda seperti itulah yang kini semakin dirindukan oleh masyarakat.

Pengirim: Lestari Sormin, S.E, Medan

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA