Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

Rancang JANA, Kami Adopsi Budaya Pojagi Korea

Senin 28 Oct 2019 20:30 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

JANA, koleksi Kami yang diperagakan di Jakarta Fashion Week 2020.

JANA, koleksi Kami yang diperagakan di Jakarta Fashion Week 2020.

Foto: Dok Kami
Mengadopsi teknik pojagi, koleksi Kami bertema JANA, tampil edgy, tapi tetap anggun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Panggung Jakarta Fashion Week (JFW) kembali diramaikan oleh penampilan desainer lokal dan internasional yang membawakan ragam koleksi menyambut tren fashion 2020. Kami, salah satu jenama modest fashion Indonesia, turut mewarnai JFW dengan membawakan koleksi terbaru, salah satunya dalam panggung persembahan dari Daliatex.

"Ada dua koleksi dengan total 32 look, karena tahun ini Kami tampil di dua kesempatan dengan koleksi serta tema yang juga berbeda,” ungkap Istafiana Candarini, Direktur dan salah satu dari founder Kami di sela konferensi pers di Jakarta, pekan lalu.

Tahun ini, merupakan tahun ketujuh bagi Kami tampil di Jakarta Fashion Week. Di sepuluh tahun perjalanannya di industri fashion, Kami menghadirkan sentuhan budaya Korea dengan koleksi yang diberi nama "JANA".

"Koleksi JANA terinpirasi dari seni menjahit tradisional Korea, yaitu pojagi atau bojagi. Pojagi atau bojagi merupakan teknik menjahit potongan-potongan sisa bahan menjadi satu-kesatuan bahan dan mempunyai fungsi baru,” ungkap Nadya Karina, Creative Director dan salah satu founder Kami.

photo
JANA, koleksi Kami yang diperagakan di Jakarta Fashion Week 2020.

Dalam sejarah Korea, jenis kain yang dihasilkan dari teknik pojagi ini telah sejak lama digunakan oleh segala kalangan sebagai kain pembungkus untuk hadiah yang bernilai. Karin menjelaskan, ada nilai memori dan recycle dalam pojagi karena teknik ini memakai kain bekas atau sisa yang sudah bertahun-tahun dipakai, sehingga memiliki nilai sejarah dan dipakai lagi dengan mempunyai fungsi baru.

"Yang unik, ada filosofi di balik kebiasaan membungkus hadiah dengan kain hasil pojagi. Maknanya adalah untuk menghargai hubungan yang terjalin antara pemberi dan penerima hadiah dan pemberian ini sebagai rahmat yang melambangkan cinta dan harapan,” jelas Karin.

Pemberian nama "JANA" pada koleksi ini diambil dari bahasa Slovia (Indo-Eropa) yang berarti Rahmat Tuhan. Makna dari JANA sendiri tidak luput dari keutamaan nilai yang terkandung dalam penggunaan kain hasil pojagi.

"Melalui koleksi ini, Kami ingin mengangkat nilai tentang harga diri, yakni dalam sebuah perumpamaan tentang bagaimana seseorang seharusnya memandang dan mengenakan harga dirinya seperti hadiah terbaik, sebuah rahmat dari Tuhan,” jelas Karin.

Koleksi JANA dibawakan dalam enam belas look yang terdiri dari atasan, bawahan, luaran, serta dress. Dengan dominasi cutting dan motif geometris serta ditambah dengan tempelan payet membuat koleksi ini sebagai gabungan dari edgy look, namun tetap ada sedikit sentuhan feminin dan kesan anggun.

"Koleksi JANA menghadirkan dominasi penggunaan bahan plisket bermotif yang beberapa beberapa d iantaranya dipadukan dengan bahan see through, ini menjadikan koleksi JANA sebagai urban modest wear yang ditunggu-tunggu oleh para pecinta modest fashion dan mudah-mudahan dapat diterima dengan baik,” tambah Karin.

Desain motif dari koleksi JANA ini juga dapat dinikmati pada instalasi pameran “Friendship in a Box”, yaitu pameran dalam rangka merayakan sepuluh tahun perjalanan Kami. Mengambil tempat di Lantai 1 Mall Senayan City, pameran yang telah dibuka sejak awal Mei lalu hadir dengan nuansa dan konsep baru, salah satunya mengangkat tema koleksi yang ditampilkan di JFW 2020.

Untuk melihat keseluruhan isi pameran, pengunjung bisa datang ke unit 102 & 1-06 Lantai 1 Senayan City, Jakarta Pusat. Pameran ini masih dibuka hingga 14 November 2019. Selain bisa melihat kisah perjalanan Kami, pengunjung juga bisa berfoto di setiap spot dan instalasi yang ada. Pengunjung juga bisa menikmati area kreativitas dan ruang kegiatan.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA