Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Pertumbuhan Pasar Modal Syariah Terkendala Literasi Rendah

Senin 28 Okt 2019 06:16 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya

Data komposisi investor saham syariah terhadap total investor Bursa Efek Indonesia.

Data komposisi investor saham syariah terhadap total investor Bursa Efek Indonesia.

Foto: dok. BEI
Per September 2019 jumla investor syariah di Indonesia mencapai 61.130 investor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar modal syariah mengalami pertumbuhan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kendati demikian, pertumbuhan tersebut dinilai masih belum optimal dikarenakan rendahnya literasi masyarakat mengenai pasar modal syariah.

"Tantangan terbesar masih tentang literasi dan inklusi pasar modal syariah," ujar Kepala Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia (BEI), Irwan Abdalloh, kepada Republika akhir pekan kemarin.

Irwan mengungkapkan, per September 2019, investor syariah di Indonesia sudah mencapai 61.130 investor. Jumlah investor ini sudah bertambah sebanyak 16.594 investor atau tumbuh sebesar 37 persen dibanding dengan jumlah investor syariah pada akhir 2018 lalu, yaitu sebanyak 44.536 investor.

Sementara dari sisi pangsa pasar, investor syariah baru mencapai 5,7 persen dari total investor pasar modal. Menurut Irwan, pertumbuhan investor syariah pada tahun ini mungkin akan lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

"Secara persentase mungkin lebih kecil karena 2019 kita mulai fokus tidak hanya meningkatkan jumlah imvestor syariah saja tetapi juga meningkatkan nilai transaksi oleh investor syariah," tutur Irwan.

Kepala Unit Pengelolaan Investasi Syariah (UPIS) PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Justitia Tripurwasani, mengatakan pada dasarnya minat investor untuk berinvestasi di reksa dana syariah terus mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari peningkatan Asset Under Management (AUM) industri reksa dana syariah di Indonesia yang terus mengalami pertumbuhan.

Jumlah investor reksa dana syariah di MAMI sendiri mengalami pertumbuhan. "Hal ini tentunya merupakan kontribusi dari kegiatan edukasi pasar modal
syariah yang MAMI lakukan," kata Justitia.

Dalam kurun waktu setahun terakhir, industri reksa dana syariah tumbuh sebesar 74,7 persen jauh di atas reksa dana konvensional yang hanya 4,8 persen. Sedangkan di tahun 2019, sejak awal tahun hingga akhir September 2019, pertumbuhan industri reksa dana syariah mencapai 61,0 persen.

Namun demikian, total dana kelolaan reksa dana syariah masih kecil, baru sekitar Rp 55,5 triliun jauh di bawah reksa dana konvensional. Per akhir September 2019, reksa dana konvensional mencapai sekitar Rp485,4 triliun pada periode yang sama.

Di MAMI, secara yoy, reksa dana syariah MAMI tumbuh sebesar 14,8 persen, dengan dana kelolaan sebesar Rp7,34 triliun per akhir September 2019. Ini menjadikan MAMI sebagai perusahaan manajer investasi dengan total dana kelolaan syariah terbesar di Indonesia.

MAMI sendiri memiliki 5 reksa dana syariah, mulai dari reksa dana pasar uang syariah (Manulife Dana Kas Syariah), reksa dana sukuk syariah (Manulife Syariah Sukuk Indonesia), reksa dana syariah terproteksi (Manulife Syariah Proteksi Misbah I), reksa dana saham (Manulife Syariah Sektoral Amanah), hingga reksa saham syariah offshore dalam denominasi dolar AS (Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS).

Reksa dana syariah MAMI dapat dimanfaatkan oleh investor individu maupun investor institusi, dengan minimum investasi yang beragam. Reksa dana Manulife Dana Kas Syariah dan Manulife Syariah Sukuk Indonesia memiliki minimum subscription Rp 10 ribu. Sedangkan reksa dana Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS memiliki minimum subscription 10 ribu dolar AS.

Peningkatan pertumbuhan investor pasar modal syariah  juga dialami Avrist Asset Management. "Iya semakin meningkat karena semakin banyak juga underlying instrumen di pasar modal syariah," ujar Head Of Investment Avrist Asset Management, Farash Farich.

Hingga saat ini, jumlah investor syariah  di Avrist Asset Management sudah mencapai 230, naik dari sekitar 180 investor pada tahun lalu. Dari total AUM Rp5.5 triliun, menurut Farash, sekitar 26 persennya berasal dari reksa dana syariah.

Saat ini setidaknya ada delapan reksa dana syariah yang ada di Avrist Asset Management. Dari semua produk tersebut, yang paling diminati adalah reksa dana pasar uang syariah karena memberikan imbal hasil yang lebih baik dari deposito syariah untuk nasabah individu.

"Selain itu, produk yang diminati juga reksa dana pendapatan tetap syariah karena kinerja underlying Sukuk Negaranya sangat baik di tahun ini," tutup Farash.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA