Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Tiga puluh Jam Merana di Bandara Narita Karena Tokyo Banjir

Ahad 27 Oct 2019 13:33 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Terlantar 30 Jam di Bandara Narita Akibat Tokyo Banjir.

Terlantar 30 Jam di Bandara Narita Akibat Tokyo Banjir.

Foto: Ilham Bintang
Tiga puluh Jam Merana di Bandara Narita Karena Tokyo Banjir

Oleh: Ilham Bintang, Jurnalis Senior

Hujan deras mengguyur Tokyo, Jepang, sepanjang Jumat (25/10). Dari subuh hingga malam. Akibatnya banyak ruas jalan banjir, minimal tergenang air di Ibu Kota negeri Sakura itu. Bahkan, jalan menuju bandara Narita sempat  ditutup. Banjir ini berbuntut panjang pada kekacauan jadwal penerbangan. Banyak pesawat yang delay, bahkan dijadwal ulang penerbangannya.

Rombongan pemimpin redaksi media Nasional yang mengikuti Trip “Enjoy Jepang Bersama Astra“ (EBA) 23-26 Oktober, juga terkena imbasnya. Penerbangan ke Jakarta dengan pesawat ANA mengalami delay.

Rombongan pesawat ANH -NH 835 baru landing di Bandara Soekarno Hatta, Minggu (27/10) pukul 04.00 subuh. Dalam rombongan ini ada Pongky Pamungkas, Riza Deliansyah dari Astra. Para pemred : Karni Ilyas, Rosiana Silalahi, Toriq Hadad, Meydiatama, Primus Dorimulu, Budiman Tanuredjo, Arifin Asydhad, Kemal Gani.

Mereka check in di Bandara Narita sejak pukul 15.00 sore Sabtu (26/10), dan boarding pukul 22.00 malam. Delay pesawat sendiri sekitar 5 jam dari jadwal semula.

50 Jam Perjalanan

Rombongan EBA masih bernasib baik dibandingkan penumpang pesawat ANA  dari San Fransisco tujuan Jakarta.

Putri Dewanti, Staf Facebook di Indonesia mengalami itu. Ai, begitu ia biasa disapa, terbang dari San Fransisco, AS, Kamis (24/10). Tiba di Bandara Narita, Tokyo, Jepang, Jumat pukul 3 sore waktu setempat. Menurut skedul Penerbangan ANA seharusnya terbang ke Jakarta pukul 6 sore. Namun, faktanya dia masih di Narita saat menyapa saya di Bandara Narita, Sabtu jam 3 sore waktu Jepang. Artinya, dia sudah transit 24 jam saat itu. Itulah dampak dari banjir yang melanda Jepang hari Jumat. Ada  puluhan penumpang ANA warga Indonesia dari San Fransisco yang senasib dengan Ai. Malah, ada satu keluarga yang terdiri delapan orang. Satu diantara berkursi roda.

Saya ketemu rombongan itu waktu boarding pesawat ANA-NH 835 menuju Jakarta Sabtu pukul 10 malam. Artinya, mereka  transit 31 jam di Narita. Malah kalau dihitung sejak  berangkat dari AS hari Kamis maka sungguh lama  perjalanan yang mereka tempuh. Asli menelan  waktu 48 jam alias dua hari dua malam. Berangkat dari AS Kamis (24/10), tiba di Jakarta Minggu (27/10) pukul 4 subuh.

Dari cerita Ai, mereka betul-betul merana. Terpaksa tidur di lobi bandara dengan sleeping bag. Mereka tidak mendapat kompensasi sepatutnya. Cerita Ai, para penumpang yang terkena delay baru dapat kompensasi makan nasi pukul 3 subuh.

Bagi penumpang yang mendesak harus tiba di Jakarta sesuai waktu, mengurus sendiri untuk cari penerbangan lain. Biaya tiket diganti?

“Tidak ada,” sahut Ai. Mereka harus beli sendiri. Mencarikan penerbangan saja tak dibantu. Alhasil ada sebagian yang terpaksa menumpang maskapai penerbangan lain dengan risiko transit di Singapore atau Kuala Lumpur sebelum tiba di Jakarta. Mereka umumnya ketakutan dampak banjir  Jepang meluas seperti ketika Topon Hagibis melanda Jepang dua minggu lalu. Seluruh transportasi udara, dan kereta lumpuh.

Seperti diceritakan sebelumnya, Jumat (25/10) siang itu selesai mengunjungi markas Komatsu di Chiba, Jepang, rombongan EBA lanjut  bersantap siang  di restoran New Otani Hotel. Menunya bento. Saat bersantap itulah semua ponsel rombongan dan tamu restoran secara serempak tanpa komando berdering. Dering  peringatan dari BMKG Jepang. Disusul dengan penampakan notifikasi huruf kanji Jepang di ponsel. Pemandu trip Mendy memberi tahu, itu warning dari BMKG Jepang. Gempa? Badai angin?

Topan Hagibis

Sejak Jumat pagi Tokyo memang diguyur hujan deras. Ramalan BMKG  hujan akan turun sampai pukul 8 malam. Alarm tadi segera memicu ingatan kolektif  pada kejadian dua pekan lalu di Jepang. Beberapa wilayahnya porak poranda diamuk Topan Hagibis. Menelan korban jiwa.

Ya, baru dua pekan silam kejadian itu. Topan ini paling mengerikan bagi warga Jepang. Pada kejadian tahun 1958 Hagibis menyebabkan tanah longsor di Kanto dan membanjiri Sungai Kano di Prefektur Shizuoka. Tercatat 888 orang tewas dan 381 lainnya hilang.

Dalam keterangannya dua minggu lalu, Meteorological Agency di Jepang mengatakan Topan Hagibis --badai ke-19 musim ini-- sudah masuk ke wilayah Tokai dan Kanto. Angin kemudian bergerak ke utara melalui Tohoku.
Topan itu, yang dianggap setara dengan badai Kategori 4 pada skala lima, membawa angin kencang dan hujan lebat merata di Negeri Sakura.

Topan itu mengakibatkan gangguan transportasi besar. East Japan Railway Co., menangguhkan banyak perjalanan kereta. Jalur Shonan-Shinjuku, misalnya, ditutup sepanjang hari bersamaan dengan rute utama lainnya, termasuk Chuo, Yamanote, Saikyo, dan Keihin Tohoku.

Sementara itu, Central Japan Railway Co. (JR Central) membatalkan semua layanan shinkansen antara Tokyo dan Nagoya sepanjang Sabtu. Sedangkan West Japan Railway Co (JR West) menangguhkan perjalanan antara Shin-Osaka dan stasiun Okayama.

Pasar swalayan waralaba Ito Yokado menutup 124 gerai di Tokyo, Kanagawa, Chiba, Saitama, Ibaraki, Gifu, Shizuoka, dan prefektur Aichi. Toserba Isetan Mitsukoshi Holdings melakukan hal serupa, toko-toko mereka di Shinjuku, Ginza dan Ebisu akan ditutup.

Tak hanya itu, taman bermain Tokyo Disneyland dan Tokyo DisneySea, tak beroperasi pada hari yang sama. Ini kejadian pertama kali sejak gempa besar Jepang Timur pada 2011.

Meski agenda Trip EBA memang  tetap berlanjut setelah dapat konfirmasi mengenai warning tadi. Di Jepang, warning seperti itu sudah biasa. Saat hujan yang diprediksi bakal  mengguyur lama, petugas BMKG mereka akan aktif memberi informasi lewat notifikasi di seluruh ponsel. Ponsel siapa saja yang berada di Jepang.

Jumat malam, saat rombongan tiba kembali di hotel, Mendy meng-update informasinya. Beberapa ruas jalan di Tokyo ditutup. Termasuk akses ke bandara Narita. Masya Allah. Bagaimana ini? Esok (Sabtu) petang rombongan akan kembali ke Tanah Air. Apakah penutupan akses itu akan berlanjut esok? Mendy cuma menyuruh berdoa.

“Sudah. Baiknya besok saja kita  bahas,“ kata Karni Ilyas waktu itu. Nada suara host ILC tvOne sebenarnya menyiratkan kecemasan, namun sebagai orangtua dia tetap berusaha bersikap tenang dan bijak. Maksudnya mencegah kepanikan rombongan.

Terus terang sayalah yang paling cemas. Hari Minggu (27/10) siang di Jakarta ada syukuran khitanan Raihan, cucu keempat saya.

Makanya, saya putuskan malam itu kembali ke kamar untuk istirahat. Membatalkan ikut agenda kawan untuk mengeksplore Tokyo di waktu malam.

“Topan Hagibis tidak ada Daeng, sudah lewat. Tidak ada lagi. Penutupan beberapa akses jalan termasuk ke Narita malam ini terjadi karena beberapa ruas jalan terkena banjir,“ jelas Ari Kurniawan, warga kita yang sudah 14 tahun tinggal di Jepang. Ari asal Tamalanrea, Makassar ini bekerja di perusahaan Jepang, TDK Corporation. Penjelasan Arif yang saya kontak malam itu juga melegakan. Saya pun bisa cepat berangkat tidur.

Dua Penerbangan

Rombongan Trip EBA diikuti 22 pemimpin redaksi media nasional. Mereka tiba di Tokyo Rabu (23/10) lalu.  Mereka pergi pulang menumpang dua maskapai : Japang Air Lines ( JAL) dan ANA ( All Nippon Airways).

Pada hari kepulangan ke Jakarta, Sabtu (26/10) sore, JAL dan ANA terbang ke Jakarta hanya terpaut 15 menit. JAL beruntung tidak ada penundaan. Terbang tepat waktu. Sedangkan ANA delay 5 jam 30 menit.

Menurut catatan ANA ini sudah bermasalah sejak awal. Pesawat yang semula akan ditumpangi Karni Ilyas dari Jakarta Rabu (23/10) sore mendadak dibatalkan karena pilotnya sakit. Karni pun mengganti pesawat dengan Garuda yang terbang malam dan tiba Kamis (24/10) di Tokyo.

Yang paling disesalkan hari itu pihak ANA tidak memberitahu delay penerbangannya kepada pihak pihak travel yang menghandel trip. Rombongan baru tahu ada delay saat check ini di counter ANA.

Untungnya kemudian pihak travel tersebut menunjukkan sikap perduli yang tinggi. Dia memberi pilihan-pilihan kepada rombongan. Ganti pesawat atau pindah bandara dari Narita ke Haneda. Dari penjelasannya bisa diketahui supporting  bandara Narita tidak 24 jam seperti Haneda. Artinya, jika penerbangan terakhir take off berakhir pula supportingnya. Seperti lounge dan penunjang lainnya. Itulah yang menjelaskan mengapa penumpang ANA dari San Fransisco yang transit di Narita, merana. Tidur dengan sleeping bag dan baru makan malam jam 3 subuh.

Tak hanya itu, bahkan pihak travel menawarkan rombongan untuk istirahat di hotel. Tapi rombongan memutuskan tetap menggunakan ANA dan bandara Narita sesuai tiket. Risikonya tentu saja  sewaktu-waktu delay bisa terjadi lagi dan ancaman sengsara seperti Ai bisa terulang.

Alhamdulillah yang terjadi delay “cuma” lima jam. Pesawat landing pukul empat subuh. Dan, saya pun bisa bersilatuhrahmi dengan tamu undangan syukuran cucu saya, Raihan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA