Rabu, 2 Rajab 1441 / 26 Februari 2020

Rabu, 2 Rajab 1441 / 26 Februari 2020

Turki Tolak Rencana Jerman Buat Zona Aman di Suriah

Ahad 27 Okt 2019 07:54 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu saat berbicara di Konferensi Keamanan di Muenchen, Jerman, Ahad (19/2).

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu saat berbicara di Konferensi Keamanan di Muenchen, Jerman, Ahad (19/2).

Foto: Matthias Balk/dpa via AP
Jerman mengusulkan zona aman yang dikendalikan internasional di Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menolak rencana Jerman untuk menciptakan zona aman yang diberlakukan secara internasional di sepanjang perbatasan Suriah dengan Turki. Menurutnya, gagasan Jerman "tidak realistis".

Baca Juga

Dia juga menolak kritik Jerman terhadap operasi militer Ankara baru-baru ini di Suriah. Setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas di ibu kota Ankara Sabtu (26/10), Cavusoglu mengatakan bahwa kepercayaan Turki di Jerman "telah terguncang" setelah "reaksi berlebihan" terhadap serangannya ke arah timur laut Suriah.

"Kami mendapatkan proposal ini tidak terlalu realistis," kata Cavusoglu seperti dikutip laman Aljazirah, Ahad (27/10). "Ini bukan urusan Turki saja, kini ada rezim (Suriah), Rusia, dan aktor-aktor lain di daerah ini," ujarnya menambahkan.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer sebelumnya mengusulkan zona aman yang dikendalikan secara internasional di Suriah utara di bawah payung PBB. Tujuannya melindungi warga sipil yang melarikan diri dan dapat memperparah situasi dengan ISIS.

Pada 9 Oktober, Turki melancarkan serangan yang bertujuan menciptakan "zona aman" yang disterilkan dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi, yang dianggap Turki sebagai "teroris". Turki juga ingin memulangkan 3,6 juta pengungsi yang saat ini tinggal di tanahnya ke daerah tersebut. Pekan lalu, Turki dan Rusia menyepakati kesepakatan yang mensyaratkan memindahkan pasukan Kurdi dari jarak 30 km (19 mil) dari perbatasan Turki pada Selasa depan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman Maas menilai serangan ofensif militer Turki sebagai "invasi". Dia mengatakan Jerman tidak akan mengeluarkan izin baru untuk peralatan militer yang dapat digunakan oleh Turki di Suriah.

Kendati demikian, Cavusoglu mengatakan Ankara mengharapkan Berlin untuk bertindak dengan semangat aliansi dan memihak Turki dalam perangnya melawan terorisme. "Kami mengalami kesulitan menjelaskan kepada orang-orang kami bahwa Jerman berpihak pada organisasi teror alih-alih Turki meskipun memahami masalah keamanan Turki yang sah," kata Cavusoglu.

Namun, dia juga mengatakan, Ankara telah meyakinkan Berlin bahwa mereka akan mematuhi hukum internasional sebagai bagian dari rencana Turki untuk memindahkan para pengungsi ke "zona aman" di Suriah timur laut. "Turki akan menangani situasi dengan cara kemanusiaan," kata Cavusoglu.

Awal pekan ini, kelompok-kelompok hak asasi Amnesty International dan Human Rights Watch menuduh bahwa pemerintah Turki telah secara paksa mendeportasi para pengungsi ke Suriah yang dilanda perang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA