Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Revolusi Industri 4.0, Jadi Pemain atau Penonton?

Sabtu 26 Oct 2019 06:41 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seorang siswa SMA diajarkan disiplin oleh anggota saat mengikuti pendidikan bela negara di Markas Kodim 0712, Kabupaten Tegal, Jateng ( ilustrasi)

Seorang siswa SMA diajarkan disiplin oleh anggota saat mengikuti pendidikan bela negara di Markas Kodim 0712, Kabupaten Tegal, Jateng ( ilustrasi)

Foto: Antara/Oky Lukmansyah
Bonus demografi ditambah revolusi industri 4.0 bisa jadi malapetaka tanpa persiapan

Pengertian Revolusi industri 4.0

Perkembangan zaman tidak bisa lepas dari bayang – bayang perkembangan Revolusi Industri. Revolusi industri secara simpel artinya adalah perubahan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang. Perubahan besar ini tercatat sudah terjadi tiga kali, dan saat ini kita sedang mengalami revolusi industri yang keempat atau kita kenal dengan Revolusi Industri 4.0. 

Setiap perubahan besar ini selalu diikuti oleh perubahan besar dalam bidang ekonomi, politik, militer, budaya bahkan juga dalam bidang teknologi. Nah, dengan adanya hal tersebutsudah pasti ada jutaan pekerjaan lama menghilang, dan jutaan pekerjaan baru yang muncul akibat revolusi industri ini.

Lebih detailnya kita harus lihat di setiap revolusi industri, tapi kasarnya adalah, beberapa hal yang semula begitu sulit, begitu lama, begitu mahal dalam proses produksi mendadak jadi mudah, cepat, dan murah. Ingat, ekonomi membicarakan macam-macam upaya manusia menghadapi kelangkaan. 

Revolusi industri menurunkan, malah terkadang menghilangkan beberapa kelangkaan tersebut, sehingga waktu, tenaga, dan uang yang semula digunakan untuk mengatasi kelangkaan-kelangkaan tersebut mendadak jadi bebas, jadi bisa digunakan untuk hal lain, untuk mengatasi kelangkaan yang lain. Selain itu, dampaknya yang luas dapat mencakup berbagai aspek dalam sendi – sendi kehidupan modern, sehingga bisa menjadi peluang atau justru ancaman bagi mereka yang tidak dapat mengikutinya.

Dampak Revolusi Industri di Indonesia

Revolusi Industri 4.0 yang digadang-gadang sebagai era super komputer, robot, dan kemajuan teknologi yang kemudian berimbas pada beberapa aspek kehidupan. Revolusi industri juga memunculkan ekonomi berbasis teknologi atau yang lebih dikenal dengan ekonomi digital. 

Bersamaaan dengan itu , Indonesia juga akan mengalami ledakan pendudukan atau juga yang disebut bonus demografi yang berimbas pada seluruh aspek kehidupan di Indonesia. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty, mengatakan bonus demografi bisa menjadi bencana jika tidak dipersiapkan dengan baik. Bonus demografi merupakan kondisi ketika usia produktif (15-64 tahun) mendominasi, yakni 50-70 persen dibandingkan usia tidak produktif (14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas). 

Indonesia mengalami bonus demografi pada 2012 hingga 2045. Puncaknya diprediksi bakal terjadi pada 2028-2031. Hal tersebut terungkap dalam Seminar Kependudukan di Aula FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Acara tersebut dihadiri Rektor UNS Prof Dr Ravik Karsidi, MS dan Sekda Surakarta Budi Yulistianto. Seminar juga diikuti ratusan siswa dan mahasiswa.

"Bonus demografi ini bisa menjadi pedang bermata dua, bisa menjadi anugerah jika melahirkan tenaga kerja berkualitas. Jika tidak, akan menjadi bencana kependudukan.  Akan menimbulkan pengangguran, kriminalitas dan kemiskinan," ungkap Surya.

Secara sederhana, bonus demografi juga dapat dijadikan momentum sebagai peluang (window of oppurtunity) yang dinikmati suatu negara akibat dari besarnya proporsi penduduk produktif. Bonus demografi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita. Struktur penduduk yang didominasi usia produktif berpotensi meningkatkan tabungan dan meminimalkan konsumsi.

Berdasarkan data Menteri Keuangan Sri Mulyani, sudah lebih 85 juta penduduk Indonesia menggunakan jaringan internet.Hal ini membuat Indonesia mempunyai peluang dalam e-commerce dan pengembang ekonomi digital. 

Dalam kasus yang lain, bonus demografi bisa jadi menciptakan berbagai hal yang tidak dipikirkan oleh orang – orang sebelumnya, dalam hal ini bisa ditandai dengan munculnya teknologi dalam bidang fashion, ekonomi, kesehatan, industri bahkan kuliner yang kemudian menjadi budaya dalam suatu masyarakat. Berangkat dari hal tersebutlah ada banyak profesi yang kemudian menjadikan primadona dalam menghadapi revolusi industri 4.0 antara lain akademisi, dokter, professional dan tentunya bagi mereka – mereka yang bisa dikatakan “melek” teknologi.

Perlu di ingat Selain memiliki dampak positif, besarnya jumlah penduduk di usia produktif juga dapat membawa dampak negatif apabila SDM tersebut belum memiliki kualitas yang mumpuni. Dengan kemajuan teknologi yang makin cepat ini, muncul pula sikap budaya instan. Sehingga, masyarakat Indonesia bisa jadi hanya sebagai “penonton” dalam Revolusi Industri 4.0.

Pendidikan Karakter

Pendidikian Karakter jadi modal penting Indonesia bisa saja melakukan gebrakan dari yang awalnya hanya sebagai “penonton” menjadi “pemain” dalam revolusi industri manakala pembangunan manusia bisa dilakukan melalui pendidikan karakter. Pengalaman adalah guru terbaik (experience is the best teacher), demikian salah satu peribahasa yang sering dilafalkan.

Hasil penelitian McKinsey (2018) dalam Wardhana tahun 2018 menyebutkan bahwa setiap kompetitor dalam kompetisi global harus mempersiapkan mental dan kompetensi yang mempunyai keunggulan persaingan (competitive advantage) dari kompetitor lain.

Menurut Suwardhana pada tahun 2018, langkah dalam mempersiapkan kemampuan yang paling mudah dijalankan adalah memiliki perilaku yang baik (behavioral attitude), menaikkan kompetensi diri, dan memiliki semangat literasi yang memadai. Sarana dalam mempersiapkan diri tersebut dapat dilalui dengan jalur pendidikan (long life education) dan konsep diri melalui pengalaman bekerja sama lintas generasi/lintas disiplin ilmu.

Perubahan mentalitas masyarakat akan sangat dibutuhkan untuk memajukan bangsa Indonesia di tengah kompetisi global yang makin kompetitif. Mengubah pola pikir (mindset) masyarakat dan membentuk mentalitas yang kuat bukanlah hal yang terbilang mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Karena ini adalah persoalan kebiasaan yang telah menjelma menjadi budaya, maka perlu perubahan secara cepat dan bersifat menyeluruh dilakukannya pendidikan karakter.

Menurut para ahli Psikolog, Struktur mental manusia terbangun atas tiga hal. Pertama, cara berpikir (mindset), kedua, cara meyakini (transendental value),ketiga, cara bersikap (behavioral approach). 

Dari tiga tahapan inilah mentalitas baik terwujud dalam bentuk prilaku. Amanah pembangunan dan penguatan karakter mental. Pendidikan karakter akan menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas dan unggul. Manusia-manusia yang unggul akan membawa Indonesia makin maju dan dapat menunjang pembangunan nasional.

Selain ituMenurut Siantari Rihartono dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menuturkan bahwa ciri suatu bangsa yang unggul, antara lain: memiliki tujuan yang produktif, cepat dan kreatif, serta memiliki kesadaran sikap optimisme.Makna pembentukan karakter merupakan refleksi sosiologis dalam kehidupan sosial yang harmonis, sedangkan refleksi revolusi industri terwujud dalam kemauan penerimaan untuk menyesuikan diri pada perkembangan ilmu dan teknologi.

Intinya, perkembangan revolusi industri tidak hanya menciptakan peluang bagi mereka yang “melek” akan teknologi tetapi juga ancaman bagi mereka yang tidak membuka mata akan perkembangan teknologi, karena pada dasarnya perubahan adalah sebuah keniscayaan. 

Pengirim: Abdul Rokhim, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISHUM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA