Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

Saturday, 9 Safar 1442 / 26 September 2020

KNKT: Sensor Pesawat Lion Air yang Jatuh Pernah Rusak

Sabtu 26 Oct 2019 01:00 WIB

Red: Nur Aini

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memberikan keterangan pers hasil investigasi kecelakaan Lion Air JT 610 di Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memberikan keterangan pers hasil investigasi kecelakaan Lion Air JT 610 di Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Sensor AoA pada Lion Air 737 MAX yang jatuh sempat diperbaiki di Florida.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan adanya miskalibrasi indikator penunjuk sikap atau angle of attack (AoA) pada sistem pesawat Boeing Max 8 teregistrasi PK LQP yang jatuh saat terbang rute Jakarta-Pangkal Pinang 29 Oktober 2018.

Baca Juga

Kepala Sub Komite Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (25/10) menjelaskan AoA tersebut sempat diperbaiki di Florida, Amerika Serikat, namun mengalami miskalibrasi.

“AoA sensor yang terpasang di pesawat, ternyata mengalami miskalibrasi sebesar kira-kira 21 derajat. AoA sensor yang terpasang ini sebelumnya dipasang di pesawat Malindo yang mengalami kerusakan kemudian dikirim di bengkel perbaikan di Florida,” katanya.

Setelah diperbaiki, kata dia, AoA dikirim dan disimpan di gudang penyimpanan di Batam Aero Technic, hangar, dan pusat perawatan pesawat Lion Air Group.

“Kemudian AOA sensor ini mengalami miskalibrasi dan pada saat perbaikan di Florida, miskalibrasi ini tidak terdeteksi,” ujarnya.

Miskalibrasi itu menyebabkan terjadinya The Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang menyala berulang-ulang ditambah dengan banyaknya komunikasi antara ATC dan pilot.

“Kami melihat kondisi ini tidak dapat dikelola dengan baik,” katanya.

MCAS adalah fitur yang baru ada di pesawat Boeing 737-8 (MAX) untuk memperbaiki karakteristik angguk (pergerakan pada bidang vertikal) pesawat pada kondisi flap up, manual flight (tanpa auto pilot), dan AOA tinggi. Proses investigasi menemukan bahwa desain dan sertifikasi fitur tersebut tidak memadai, juga pelatihan dan buku panduan untuk pilot tidak memuat informasi terkait dengan MCAS.

Dalam kesempatan yang sama, Investigator KNKT Ony Soerjo Wibowo mengatakan pihak yang memperbaiki AoA di Amerika Serikat tidak menggunakan alat yang direkomendasikan oleh manufaktur.

“Tapi bisa dipakai dan sah. Cuma ada kelemahannya, kalau switch satu saja akan menyebabkan kalibrasinya bermasalah. Inilah yang kita sangka terjadi. Karena ketika kita uji kembali, ketika dicoba switch-nya sengaja disalahin, ternyata benar ada miskalibrasi, sehingga kita berpendapat barangkali inilah yang mengakibatkan 'angle of attack' itu miskalibrasi,” katanya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA