Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Senin, 23 Jumadil Akhir 1441 / 17 Februari 2020

Donald Trump Tempatkan Pasukan AS di Ladang Minyak Suriah

Jumat 25 Okt 2019 07:38 WIB

Rep: Dwina Agustin/Umar Mukhtar/ Red: Nur Aini

Fasilitas ekstraksi minyak di Suriah. Foto dari laman resmi Kementerian Pertahanan Rusia

Fasilitas ekstraksi minyak di Suriah. Foto dari laman resmi Kementerian Pertahanan Rusia

Foto: AP
Trump berdalih ingin melindungi ladang minyak Suriah dari kelompok ISIS.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump menyebut tidak akan mengizinkan kelompok teror ISIS mengambil alih ladang minyak di Suriah utara. Trump juga mengatakan ISIS berupaya merebut ladang tersebut dengan bantuan milisi Kurdi.

Baca Juga

"Kami tidak akan pernah membiarkan ISIS memiliki ladang-ladang itu!," kata Trump yang mengeluarkan pernyataan melalui akun resmi Twitter-nya, dilansir dari kantor berita Turki, Anadolu Agency, Jumat (25/10).

Dalam cicitan itu, Trump juga menyampaikan bahwa dia telah melakukan percakapan dengan komandan milisi Kurdi Mazloum Abdi. Dari percakapan tersebut, ada sinyal bahwa kelompok milisi Kurdi berupaya menuju ladang-ladang minyak tanpa menjelaskan lebih lanjut.

"Aku benar-benar menikmati percakapanku dengan Jenderal @MazloumAbdi. Dia menghargai apa yang telah kita lakukan, dan aku menghargai apa yang telah dilakukan oleh Kurdi. Mungkin sudah waktunya bagi Kurdi untuk mulai menuju ke Wilayah Minyak!," tulis Trump.

Trump lebih lanjut mengonfirmasi bahwa sejumlah pasukan AS akan tetap berada di Suriah untuk mengamankan ladang minyak. Namun dia tidak merinci di mana pasukan akan ditempatkan, atau berapa banyak jumlah pasukannya. "Kami akan melindunginya (ladang minyak)," kata Trump.

Trump dan yang lainnya menggunakan istilah "Kurdi" untuk merujuk pada beberapa kelompok. Mereka termasuk populasi Kurdi Suriah, Kurdish-led Syrian Democratic Forces yang dipimpin Kurdi, campuran orang Arab, Kurdi, dan lainnya, serta elemen Kurdi dari SDF yang dikenal sebagai YPG, sebuah kelompok yang dikatakan Turki adalah target invasi baru-baru ini.

Dikutip dari CNN, pejabat pertahanan mengonfirmasi AS berkomitmen untuk memperkuat posisi di Suriah. Washington telah berkoordinasi dengan mitra-mitra SDF di timur laut Suriah dengan aset militer tambahan untuk mencegah ladang-ladang minyak.

"Kita harus menolak ISIS aliran pendapatan ini untuk memastikan tidak ada kebangkitan," kata pejabat itu.

Seorang pejabat senior militer AS mengatakan, pasukan di dekat ladang minyak tidak akan hanya fokus pada melindungi infrastruktur minyak. Mereka juga akan membantu memerangi sisa-sisa militan ISIS dan terus bekerja dengan melatih SDF setempat.

Pada 9 Oktober lalu, Turki meluncurkan operasi militer yang menyasar kelompok Kurdi bersenjata dari Suriah utara di sebelah timur Sungai Efrat. Turki berdalih ingin mengamankan perbatasan Turki dan membantu pengembalian pengungsi Suriah yang aman dan memastikan integritas teritorial Suriah.

Tindakan itu menuai kritik dunia yang mengklaim militer Turki melakukan "pembersihan etnis" terhadap penduduk Kurdi di timur laut Suriah. Erdogan dan pemimpin Rusia Vladimir Putin, mengadakan pertemuan pada Selasa lalu di kota resort Laut Hitam Sochi.

Ankara dan Moskow mencapai kesepakatan di mana kelompok milisi Kurdi akan mundur 30 kilometer (19 mil) selatan perbatasan Turki dengan Suriah utara dalam waktu 150 jam. Pasukan keamanan dari Turki dan Rusia akan melakukan patroli bersama di sana.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA