Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Tajuk Republika: Menanti Gebrakan Kabinet

Kamis 24 Oct 2019 11:10 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Perkenalan Kabinet Indonesia Maju. Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin saat mengenalkan jajaran Kabinet Indonesia Maju  di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10).

Perkenalan Kabinet Indonesia Maju. Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin saat mengenalkan jajaran Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10).

Foto: Republika/ Wihdan
Kabinet Indonesia Maju fokus mengembangkan SDM dan penciptaan lapangan kerja.

REPUBLIKA.CO.ID, Presiden Joko Widodo mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024 pada Rabu (23/10) pagi. Presiden juga langsung melantik para menteri dan pejabat setingkat menteri itu pada hari yang sama.

Pengumuman komposisi Kabinet Indonesia Maju ini mengakhiri polemik siapa saja para pembantu Presiden yang dalam satu dan dua hari sebelumnya dipanggil Jokowi ke istana. Pengumuman ini juga memfinalisasi siapa yang menduduki kursi menteri ini dan menteri itu.

Presiden Jokowi mengumumkan susunan kabinetnya sambil duduk berlesehan di bawah pelataran tangga Istana Negara. Ditemani oleh Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, Jokowi menyebut satu per satu nama dan jabatan menteri yang diemban. Ada muka baru, ada muka lama. Ada yang dari kalangan profesional, pengusaha, organisasi kemasyarakatan, hingga politisi.

Total ada 34 menteri dalam Kabinet Indonesia Maju ditambah empat pejabat setingkat menteri. Terdapat 21 menteri yang berasal dari unsur nonpartai dan 17 dari kalangan partai politik. Komposisi ini sesuai dengan janji Jokowi yang akan mengisi mayoritas kabinetnya dari kalangan profesional.

Presiden menyebut nama Kabinet Indonesia Maju karena pada lima tahun ke depan akan fokus pada pengembangan sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan usaha kecil mikro dan menengah. Pernyataan Presiden ini sejalan dengan lima visi yang dibacakannya pada saat pelantikan di Kompleks Parlemen Senayan, Ahad (20/10).

Pada kesempatan tersebut, Jokowi menyatakan untuk memprioritaskan pembangunan SDM dengan penguasaan iptek, endowment fund, kerja sama industri, dan pemerataan teknologi; melanjutkan pembangunan infrastruktur untuk mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat; penyederhanaan regulasi dengan undang-undang omnibus, revisi UU Tenaga Kerja, dan revisi UU UMKM, penyederhanaan birokrasi, pemangkasan prosedur, penyederhanaan eselonisasi, dan mekanisme hukuman untuk menteri maupun pejabat; dan yang terakhir adalah transformasi ekonomi dari kebergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern.

photo
Pelantikan Kabinet Indonesia Maju. Jajaran Kabinet Indonesia Maju mengikuti acara perkenalan bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10).

Tentu untuk mewujudkan lima visi ini tidak mudah. Bahkan, Presiden telah mewanti-wanti siapa saja yang tidak serius menjamin tercapainya tujuan program pembangunan ini untuk mundur. "Bagi yang tidak serius, saya tidak akan memberi ampun. Saya pastikan, pasti saya copot," kata Presiden, Ahad lalu.

Ancaman Jokowi memang tidak main-main. Hal yang juga tidak main-main adalah mimpi untuk menjadikan Indonesia masuk dalam lima negara dengan perekonomian terbesar dunia pada 2045 atau tepat 100 tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Tantangan untuk mencapainya tidak ringan karena Indonesia pada masa kiwari harus bisa keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah. Hal ini telah diyakini Jokowi bahwa Indonesia bisa keluar dari jebakan ini.

Itu artinya, Indonesia harus menjadi negara dengan pendapatan Rp 320 juta per kapita per tahun atau Rp 27 juta per kapita per bulan. Produk domestik bruto Indonesia harus menyentuh 7 triliun dolar AS. Kondisi ini menjadikan Indonesia dengan angka kemiskinan mendekati nol persen. Jokowi yakin dengan target tersebut karena ada hitung-hitungannya. Impian yang tidak main-main tentunya.

Walakin, untuk mencapainya perlu kerja keras. Cara-cara baru harus dicoba. Terobosan mesti dibuat. Berpikir dan bertindak tidak lagi seperti yang biasa dilakukan. Semangat berkompetisi dalam dunia yang dinamis menjadi keniscayaan.

Semua target pada 2045 itu harus disiapkan sejak saat ini. Tangga-tangga menuju lima besar negara dengan perekonomian terbesar kelima dunia itu mesti dibuat penahapannya dari sekarang. Dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan terarah guna mewujudkan target tersebut.

photo
Perkenalan Kabinet Indonesia Maju. Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin saat mengenalkan jajaran Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10).

Kabinet Indonesia Maju bisa menjadi cikal bakal dalam merealisasikan cita-cita ini, tetapi juga bisa menjadi peredam semangat guna mewujudkannya jika tidak didukung dengan basis kompetensi dan kinerja yang luar biasa.

Karena itu, para menteri mesti benar-benar menguasai bidangnya secara optimal. Tidak ada lagi istilah belajar menjadi menteri, sebagaimana perintah Jokowi untuk berorientasi bahwa hasil sedang ditunggu rakyat.

Indonesia dituntut kian maju sebagaimana nama Kabinet Indonesia Maju itu sendiri. Di sinilah makna dari tanggung jawab profesional para menteri. Mereka mesti selesai dengan dirinya sehingga bisa total memfokuskan pikiran dan perbuatannya untuk bangsa dan negara alih-alih untuk diri dan kelompoknya. Pemihakan yang tinggi ditujukan pada hajat hidup rakyat.

Kini saatnya para menteri dan pejabat negara di tingkat mana pun untuk membuat gebrakan sebagai batu bata dari target mewujudkan Indonesia maju. Selamat bekerja untuk Kabinet Indonesia Maju.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA