Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Tunjuk Ajar Melayu: Pemimpin yang Berumah dalam Musyawarah

Kamis 24 Oct 2019 10:25 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat Melayu Deli saat mengikuti prosesi pemberian gelar adat Melayu Deli, di Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara, Ahad (7/10).

Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat Melayu Deli saat mengikuti prosesi pemberian gelar adat Melayu Deli, di Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara, Ahad (7/10).

Foto: Antara/Irsan Mulyadi
Nasihat Melayu: Pemimpin Yang Berumah Dalam Musyawarah

Oleh: Taufik Ikram Jamil, Budayawan dan Tetua Adat Melayu Riau

Dalam tunjuk ajar Melayu, berdasarkan posisi dan fungsi, pemimpin sekurang-kurangnya menjadi inisiator dari suatu kerja sama.

Sebab: Yang dikatakan pemimpin/Didahulukan selangkah/Ditinggikan seranting/ Dituakan oleh orang banyak/Dikemukakan oleh orang ramai/Diangkat menurut adat/Dikukuhkan menurut lembaga/. Yang dikatakan pemimpin: Berkata lidahnya masin/Bercakap pintanya kabul/Melenggang tangannya berisi/Menyuruh sekali pergi/Menghimbau sekali datang/Melarang sekali sudah//

Dalam rangkaian posisi yang harus berada di depan, dengan bayang-bayang sebagai insiator dalam suatu kerja sama, lebih lanjut disebutkan:

Bagaikan kayu di tengah padang


Tempat beramu besar dan kecil


Rimbun daun tempat berteduh


Kuat dahannya tempat bergantung


Besar batang tempat bersandar


Kokoh uratnya tempat bersilang

Tempat kusut diselesaikan


Tempat keruh dijernihkan


Tempat sengketa disudahkan


Tempat hukum dijalankan


Tempat adat ditegakkan


Tempat syarak didirikan


Tempat lembaga dituangkan


Tempat undang diundangkan


Tempat memberi kata putus

Dalam suatu masyarakat, bahkan negeri, pemimpin memiliki berbagai kelihaian mengatur dan mengarahkan: Yang menimbang sama berat/Yang menyukat sama pepas/Yang mengukur sama panjang/Yang menakar sama penuh/Yang menyimpul sama mati/Yang menyimpai sama kuat/Yang mengikat sama-sama kokoh//.

Dalam ungkapan lain untuk menjaga agar kerja sama dapat berjalan sebaik mungkin, tunjuk ajar Melayu menyebutkan bahwa seorang pemimpin dapat meluruskan sesuatu sesuai dengan keinginan bersama: Yang berbongkol ditarahnya/Yang kesat diampelasnya/Yang menjungkat diratakannya/Yang miang dikikisnya/Yang melintang diluruskannya/Yang menyalah dibetulkannya/Yang tidur dijagakannya/Yang lupa diingatkannya/Yang sesat diunutnya/Yang hilang disawangnya//

Seorang pemimpin menjadikan musyawarah dan mufakat sebagai hal-hal yang wujud. Melalui metafora “rumah” dan “tempat”, musyawarah maupun mufakat, tak pelak lagi dipandang sebagai hal yang vital seorang pemimpin dalam menjalankan fungsinya. Hal tersebut terungkap dalam ungkapan yang dikutip budayawan Riau, Tenas Effendy, sebagai berikut:

Yang berumah dalam musyawarah


Yang bertempat dalam mufakat


Yang berdiri dalam budi


Yang tegak dalam syarak


Yang duduk dalam khusyuk


Yang memandang dengan undang


Yang melihat dengan adat


Yang mendengar dengan tunjuk ajar


Yang berkata dengan sunnah


Yang berlaku dengan ilmu


Yang berjalan dengan iman

Yang melangkah dengan petuah


Menyadari pentingnya pemimpin dalam kehidupan manusia, berbangsa, bernegara, bermasyarakat, berumah-tangga, dan sebagainya, maka orang Melayu berusaha mengangkat pemimpin yang lazim disebut “orang yang dituakan” oleh masyarakat dan kaumnya.

Pemimpin ini diharapkan mampu membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun masyarakat dalam arti luas, baik untuk kepentingan hidup duniawi maupun untuk ukhrawi.

Pemimpin seperti ini akan mampu memberikan kesejahteraan lahiriah dan batiniah bagi masyarakat, bangsa dan negaranya. Lebih lanjut disebutkan:

Yang dikatakan pemimpin


Mau menampin tahan berlenjin


Mau bersakit tahan bersempit


Mau berteruk tahan terpuruk


Mau berhimpit tahan berlengit


Mau bersusah tahan berlelah


Mau berpenat tahan bertenat

Mau berkubang tahan bergumbang


Mau bertungkus lumus tahan tertumus


Mau ke tengah tahan menepi


Mau memberi tahan berbagi


Mau bersusah tahan merugi

Dengan peran dan fungsi pemimpin seperti dikemukakan di atas, seorang pemimpin dalam alam Melayu memang harus amanah. Konsep amanah yaitu kepercayaan yang menjadikan seseorang untuk memelihara dan menjaga sebaik-baiknya hal yang diamanahkan kepadanya, tidak saja dari orang-orang yang dipimpinnya, tetapi juga kepada Allah SWT.

Dalam karakter ini, amanah mengandung setidak-tidaknya tiga keunggulan yakni amal, asin, asuh. Pemimpin amal memiliki perilaku yang baik sehingga menjadi modal utama dalam suatu kepemimpinan yang dapat dipercayai oleh masyarakat. Pemimpin asin, pemimpin yang selalu mengatakan apa yang sebenarnya tanpa menutup-nutupi atau bersusaha terlihat baik. Pemimpin selalu membuktikan perkataannya dengan perbuatan yang nyata.

Sedangkan pemimpin asuh mengutamakan kepentingan negeri dan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Menjalankan tugas sebagai suatu amanah yang harus dikerajakan dengan sebaik-baiknya. Rela berkorban dan arif dalam bertindak.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, orang tersenyum, orang berdiri

Khusus bagi orang Riau ada jejak arif seorang pemimpin. Ini ditujukan oleh sosok
Sultan Siak, Syarif Kasim II yg didampingi permaisurinya, bertemu Presiden Soekarno di Yogyakarta pada tahun 1949. Beliaulah vekunjung ke sana setelah melalui surat menyatakan bergabung dengan RI tahun 1945.

Dalam kesempatan itu, Sultan Syarif Kasim antara lain menyerahkan uang jutaan 
gulden untuk perjuangan menegakkan NKRI. Belum lagi kawasan kerajaan yang kaya raya termasuk ladang minyak.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA