Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Sentimen Positif Kabinet Masih Menopang Pergerakan Pasar

Kamis 24 Okt 2019 09:45 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolanda

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
IHSG memiliki peluang bergerak menguat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan pasar pada hari ini diperkirakan masih mendapat sentimen dari susunan kabinet Indonesia Maju Pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun diproyeksi menguat sepanjang perdagangan hari ini. 

Baca Juga

 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis dibuka menguat 13,71 poin atau 0,22 persen ke posisi 6.271,51. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 3,66 poin atau 0,37 persen menjadi 995,78.

"Sejauh ini kami melihat minat para pelaku pasar, baik lokal maupun asing masih sangat besar," ujar Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (24/10).

Menurut Nico, sentimen positif kabinet masih menjadi penopang penggerak pasar, baik saham maupun obligasi pekan ini. Ditambah lagi dengan adanya potensi pemangkasan tingkat suku bunga Bank Indonesia pada hari ini. 

Sejauh ini, pemerintah berusaha untuk terus mengakomodir kebijakan dengan pro pertumbuhan, seperti dengan pemangkasan tingkat suku bunga terus berlanjut. Kedua sentimen ini masih akan menjadi pendorong hari ini, ditengah tengah mulai minimnya sentimen untuk pasar setelah susunan kabinet selesai. 

Pemerintah juga telah merevisi defisit anggaran tahun ini yang sebelumnya 1,84 persen menjadi 1,93 persen dari GDP. Nico melihat kenaikan ini masih dalam batas aman. Pemerintah terus berupaya untuk menggunakan semua intrumen dan sumber daya yang ada untuk menetralisir dampak negatif dari melemahnya ekonomi global. 

"Kami melihat Pemerintah terus berupaya untuk menjaga target pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk berada di atas 5 persen, tentu kami pun berharap demikian, apalagi ditengah tengah batas tenggat waktu saat ini yang sudah mau penutupan tahun," kata Nico.

Fokus berikutnya adalah menanti agenda para kabinet yang sudah dilantik, apakah agenda tersebut dapat mewujudkan visi dan misi dari Jokowi atau tidak. Agenda kerja terkait dengan para Menteri dapat disesuaikan dengan visi dan misi yang ingin dicapai.

Selain sentimen soal kabinet, pergerakan pasar juga dipengaruhi penjualan Global Bond untuk mendukung anggaran 2019-2020. Sebagai informasi, Indonesia menjual Global Bond dengan tenor 30 tahun dengan kisaran initial price guidance di 4,1 persen. Hal ini bertujuan untuk mendukung anggaran tahun depan khususnya terkait dengan strategi front loading untuk persiapan lebih awal. 

Nico melihat, baik domestic bond maupun global bond semuanya masih mendapatkan sambutan yang positif dari pasar. Obligasi jangka Panjang pun tidak kesulitan untuk mencari peminat. Menurut Nico, apabila minat investasi ini dapat dijaga dengan baik, tentu tahun depan, capital inflow akan kembali mengalir di pasar Indonesia. 

Berdasarkan analisa tersebut, Nico memperkirakan IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan diperdagangkan pada level 6.200-6.320. Sementara itu, pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG menguat 0,38 persen atau naik 24 bps ke level 6.282 dari 6.257.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA