Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Sempat Anjlok, Pasar Tunggu Kinerja Kabinet Baru

Rabu 23 Oct 2019 18:45 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Gita Amanda

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

Seorang mengunjung memotret layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
IHSG kembali menguat pada penutupan perdagangan ke level 6.257.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sempat terkoreksi ke level terendah 6.197, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada penutupan perdagangan Rabu (23/10) ke level 6.257. Menurut CEO Manulife Aset Manajemen Indonesia Legowo Kusumonegoro, pergerakan IHSG tersebut tidak menggambarkan pesimisme pasar terhadap kabinet jilid II.

Sebaliknya, pasar sedang memberi waktu bagi kabinet baru untuk merealisasikan rencana-rencana kerja mereka. "Meskipun sempat melemah, itu bukan berarti pasar tidak mendukung susunan kabinet baru ini," kata Legowo, Rabu (23/10).

Legowo melihat, beberapa nama pemain lama yang kembali duduk di kabinet baru cukup memberikan pengaruh positif bagi pergerakan pasar. Sebut saja Sri Mulyani yang diminta lagi untuk menjadi Menteri Keuangan. Rejam jejak Sri Mulyani yang cemerlang pada pemerintahan sebelumnya bisa meningkatkan kepercayaan para investor.

Menurut Legowo, volatilitas pasar yang meningkat dalam setahun belakang termasuk beberapa waktu terakhir ini lebih disebabkan karena sentimen eksternal. Seperti diketahui, pelemahan ekonomi global hingga isu resesi berpengaruh besar terhadap kepercayaan investor. Sehingga, tidak sedikit investor yang melakukan aksi jual bersih.

Berdasarkan data RTI, aksi jual bersih investor asing tercatat sebesar 13,18 persen atau Rp 2,5 triliun. Sedangkan aksi beli bersih asibg tercatat 11,98 persen atau senilai Rp 2,3 triliun.

Kendati banyak yang keluar dari pasar saham, menurut Legowo, buka  berarti investor asing kehilangan kepercayaan terhadap Indonesia. Kebanyakan investor asing justru mengalihkan investasi mereka ke pasar obligasi. "Investor asing balik lagi tapi masuknya ke obligasi," tutup Legowo.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA