Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Lebih dari 100 Gajah Mati di Botswana

Rabu 23 Oct 2019 16:41 WIB

Red: Ani Nursalikah

Gajah Afrika

Gajah Afrika

Foto: flickr
Gajah mati sebagian besar karena dugaan wabah penyakit antraks dan kekeringan.

REPUBLIKA.CO.ID, GABORONE -- Lebih dari 100 ekor gajah di Botswana mati dalam dua bulan terakhir. Gajah mati sebagian besar karena dugaan wabah penyakit antraks, Selasa (22/10).

"Penyelidikan awal menunjukkan gajah mati akibat penyakit antraks, sementara beberapa lainnya mati karena faktor kekeringan," kata Departemen Satwa dan Taman Nasional melalui pernyataan.

Akibat kekeringan ekstrem, gajah-gajah itu akhirnya menelan tanah sambil makan rumput sehingga terkena spora bakteri antraks. Elephants Without Borders melaporkan survei melalui udara menunjukkan bangkai gajah segar meningkat hingga 593 persen antara 2014 hingga 2018, kebanyakan akibat perburuan liar dan ilegal serta faktor kekeringan.

Otoritas margasatwa menyebutkan kematian gajah terbaru terjadi di daerah Sungai Chobe dan daerah Nantanga di Botswana utara, lokasi 14 gajah mati ditemukan pekan ini. Otoritas juga akan membakar bangkai-bangkai itu guna mencegah infeksi penyakit antraks menyebar ke satwa lain.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, antraks disebabkan oleh bakteri yang dijumpai secara alami di tanah. Biasanya, hewan peliharaan dan satwa liar tertular penyakit tersebut,saat mereka menghirup atau menelan spora di tanah, tanaman atau air yang sudah terkontaminasi.

Antraks tidak menular dan manusia hanya dapat terinfeksi antraks jika tertelan bakteri tersebut. Penyakit itu dapat dicegah pada hewan melalui vaksinasi yang rutin.

Botswana menjadi rumah untuk hampir sepertiga gajah Afrika dengan sekitar 130 ribu ekor. Negara itu mencabut larangan berburu untuk memerangi konflik yang berkembang antara manusia dan satwa liar. Botswana dan negara tetangganya di Afrika selatan mengalami kekeringan parah lantaran curah hujan di bawah rata-rata sejak El Nino melanda pada 2015.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA